Selasa, 26 Mei 2015

catatan harian

Pagi yang cerah untuk memulai perkuliahan dimana hari itu merupakan hari pertamaku masuk kuliah semester dua setelah mendapatkan waktu libur selama dua bulan. Waktu liburku kuhabiskan di Pare Kediri selama satu bulan kemudian satu bulannya lagi kuhabiskan di rumahku, rumahku ibarat “Home Sweet Home”. Kami belajar bahasa Inggris di Pare kurang lebih satu bulan lamanya, di sana kami benar-benar memaksimalkan waktu belajar kami karena kami menyadari bahwa kami tidak ingin menyia-nyiakan uang negara yang telah dititipkan kepada kami, banyak ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan di sana. Dan apa yang kami dapatkan di Pare kami amalkan di perkuliahan seperti doa sebelum dan sesudah belajar.

Hari pertama memasuki perkuliahan semeter dua tepat pada pukul 07.45 hati terasa dag dig dug karena jujur saya belum siap untuk memasuki perkuliahan di semester dua ini, rasa minder saya tiba-tiba kambuh lagi. Saya merasa belum memiliki persiapan untuk masuk perkuliahan semester dua tapi mau tidak mau saya harus mengahadapinya. Setelah beberapa hari lamanya tinggal di rumah, ketika masuk ke kelas seakan-akan semuanya terasa asing baik itu teman-teman saya sendiri maupun suasana dalam kampus.

Tak beberapa lama kami duduk-duduk sambil bercerita dengan teman-teman, tiba-tiba seseorang berjalan menuju kelas kami dengan sosok yang tinggi, tegap, dan berpakaian yang rapi ternyata Beliau tersebut adalah salah satu dosen besar UIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau salah satu dosen yang mengajar di kelas kami. Ketika Beliau masuk dengan berjalan tegap gagah dengan membawa beberapa buku ditangannya, semua mata tertuju pada Beliau sampai-sampai kami terkagum-kagum kepada Beliau atas kewibawaannya.

Ketika Beliau memasuki kelas kami maka Beliau langsung duduk di tempat dosen yang telah disediakan. Kemudian sebelum memulia pembahasan kuliah terlebih dahulu kami berbincang-bincang, kemudian setelah beberapa jam kami berbincang-bincang dalam keadaan tegang karena kami tidak tahu kejuatan apalagi yang akan Beliau berikan kepada kami. Beliau langsung melanjutkan pembicaraannya mengenai sistem perkuliahan kita kedepannya. Beliau menjelaskan tentang tata cara membuat makalah dalam bentuk tafsir, semua sistematika Beliau jelaskan, kemudian setelah itu dilanjut lagi dengan pembagian kelompok. Ada tiga kelompok karena Prof Ali membaginya sesuai dengan beberpa versi tafsir. Prof Ali mengambil tiga versi dari tafsir, pada tafsir pertama tafsir versi al-Munir, tafsir kedua yaitu tafsir versi Ibnu Katsir dan tafsir ketiiga yaitu tafsir versi al-Azhar. Diantara ketiga pilihn tersebut saya memilih tafsir versi al-Azhar.

Tafsir al-Azhar  dan tafsir versi Ibnu Katsir sudah pernah saya pelajari sebelumnya di pesantren, sedangakn tafsir versi al-Munir belum pernah sama sekali. Sebenarnya saya ingin memilih tafsir versi al-Munir akan tetapi tafsir al-Munir ini menggunakan bahasa Arab sehingga ketika saya mengetahui bahasanya maka saya langsung down dan tidak berniat lagi terhadap terhadap tafsir al-Munir. Dan akhirnya saya memutuskan untuk memilih tafsir versi al-Azhar yang sudah dipelajari sejak di pesantren dulu. Dalam setiap kelompok beranggotakan 10 orang.

Tafsir versi al-Azhar merupakan pengarang dari Hamka dimana Beliau menulis buku tersebut ketika Beliau berada dalam penjara dan bahasa yang digunakannya pun merupakan bahasa yang jadul dan terkadang sulit untuk dipahami. Hari pertama masuk kuliah tapi sudah mendapatkan tugas dari Prof Ali. Setelah menjelskan sistemahtika penulisan makalah, di dalam makalah tersebut terdapat tiga bagian, pada bagian pertama menulis ayat yang bersangkutan dengan judul, kemudian pada bagian kedua munasabah dari ayat sebelumnya dan ayat tersebut, dan yang terakhir adalah kesimpulan dari ayat tersebut yang dikaitkan dengan judul materinya. Beliau langsung memberikan contoh dari isi makalah tersebut. Beliau memerintahkan kepada kami untuik membuka al-Qur’an dan menujukkan beberapa ayat dan menjelaskan munasabah dan kesimpulan. Setelah itu, salah seorang di antara kami menyebutkan munasabahnya serta kesimpulannya. Akhirnya perkuliahan hari itu selesai tepat pada jam 11.00 siang, 4 SKS telah berlalu dalam keadaan tegang.

Setelah keluar dari kelas maka kami langsung mengatur job untuk mengerjakan tugas tafsir Prof Ali dan kebetulan senin siang kosong tidak ada jadwal sama sekali, sehingga kai menggunakan siangnya tersebut untuk pergi ke perpustakaan mencari tafsir versi masing-masing. Kami mulai mencari tafsir tersebut  di ruang referensi namun tak kami temukan, akhirnya kami bergegas ke koleksi umum bagian luar daan alhamdulillah tafsirnya ketemu juga. Pada saat itu juga kami mulai membagi tugas di antaranya ada yang menulis terlebih dahulu menyatukan ayatnya, dan yang lainnya ada yang mencari langsung ke tafsirnya. Kami mengerjakannya dengan perasaan senang yang diselingi dengan perasaan tegang karena begitu banyak tafsiran yang harus kami cari. Dan ternyata tafsir yang disediakan pihak perpustakaan tidak begitu lengkap entah itu ada yang meminjam ataukah tafsirnya terselip kebuku-buka lain. Akhirnya kami mencari ke rak buku yang lain dan ternyata ada sebagian yang terselip. Ayat yang sudah ketemu tafsirnya segera difotocopy ditakutkan nanti perpustakaannya tertutup dan tidak sempat mengopy tafsirnya.

Dalam pengerjaan makalahnya terlebih dahulu ketua kelompok kami membagi job dalam beberapa ayat akan dikerjakan oleh dua orang langsung begitu seterusnya kemudian dua orang tersebutlah yang harus bertanggung jawab atas tafsirnya. Dan diberikan waktu oleh ketua kelompok dalam mengerjakannya dan jika tidak selesai maka akan diberikan sanksi kepada grup yang tidak menyelesaikannya tepat waktu. Kami mengerjakannya seharian tanpa memerhatikan waktu istirahat, waktu pengumpulan ketikannya telah tiba dan masing-masing grup akan mempertanggung jawabkan atas apa yang mereka kerjakan. Dan ketika semua ketikan terkumpul ternyata tak disadari ketika ketikannya digambung semua menghasilkan begitu banyak halaman kurang lebih sekitar 176 banyaknya halaman dan itu cukup membutuhkan banyak biaya print. Salah seorang di antara kami mengeprint makalah tersebut dan akan siap untuk dikumpulkan esok harinya. Prof Ali memberikan kami kesempatan mengerjakan tugas tersebut kurang lebih selama dua minggu lamanya dan itu membutuhkan waktu yang sangat ekstra dan jga membutuhkan tenaga yang kuat untuk begadang tiap malamnya.

Pertemuan selanjutnya, kami sudah harus mengumpulkan tugas tersebut akan tetapi tugasnya belum dijilid dan masih dijepit dengan kertas jepit karena Beliau sudah mengira bahwa kami akan mendapat revisi untuk yang pertama kalinya. Ternyata pada hari itu makalah kami tidak dikumpulkan akan tetapi langsung revisi untuk yang pertama kalinya, kami revisi di kelas dan dengan segara kami membagi job lagi setiap dua orang mengoreksi beberapa halaman dan ketika mengoreksinya kami mendapatkan banyak kesalahan dan kekurangan. Ketika saya membaca salah satu munasabah ayat, saya melihat munasabah yang panjngnya sekitar satu halaman, ketika Prof Ali menghampiriku  kemudian saya bertanya kepada Beliau,

“Ustadz munasabah sepanjang ini boleh gak?”

“(sambil melihat dan tersenyum) oowh.... tidak boleh, munasabah tidak boleh sepanjang itu”

“oowh... iya pak (sambil tertawa kecil)”

“munasabah tidk boleh sepanjang itu (sambil tertawa)”

Kemudian Beliau kembali ke depan untuk menjelaskan munasabah dan ketika Beliau menjelaskan sebagian temn-teman tertawa.
Waktu yang seharusnya kami gunakan untuk belajar digunakan untuk merevisi makalah kami. Dan akhirnya setelah beberapa jam kami merevisi tugas  maka Beliau menyuruh kami untuk melanjutkan revisinya di luar perkuliahan saja.

Setelah melakukan revisi maka Beliau memberikan sedikit materi tentang munasabah dan kesimpulan. Masing-masing kelompok berkumpul menjadi satu kemudian memaparkan hasil munasabah dan kesimpulan yang didapatkan. Ketika pada ayat pertama salah satu teman kelompok kami mulai membacakan munasabah dan kesimpulannya tapi ternyata apa yang kami paparkan salah karena kami salah memunasabahkan ayat dan kami disuruh untuk membuat munasabah dan kesimpulan yang lain, sambil memikirkan munasabah dan kesimpulan maka Prof Ali mempersilakan kelompok Ibnu Katsir untuk memaparkan hasil munasabah dan kesimpulannya. Hari itu terus berjalan dan dipenuhi rasa tegang. Waktu diskusi telah hampir selesai, menit-menit terakhir Beliau memberikan penjelasan kepada kami tentang munasabah pada ayat yang dibahas, kemudian diselingi sedikit motivasi-motivasi untuk kami agar lebih giat lagi dalam belajar.

Tak beberapa lama tanpa terasa waktu perkuliahan pada hari itu berakhir tepat pada pukul 11.00 siang. Beliau segera menutupnya dengan doa kafaratul majlis. Setelah Prof Ali keluardari kelas, kami kelompok al-Azhar mengadakan diskusi kelompok tiap minggu pada hari ahad, diskusi itu dilakukan agar supaya kami dapat belajar bersama mengenai munasabah ayat. Setiap minggu kami harus dapat mendapatkan munasabah dari beberapa ayat. Dan hasil diskusi kami bisa dilihaat ketika di kelas, di setiap diskusi kami tidak kualahan ketika ditanya tentang munasabah dan kesimpulan karena sebelumnya kami sudah memersiapkannya.

Pada minggu selanjutnya, sesuai hasil diskusi salah seorang teman dari kelompok kami membacakan munasabah dan kesimpulannya secara bergiliran antar kelompok. Kemudian dilanjut dengan komentar Prof Ali mengenai munasabah kami dan alhamdulillah munasabah kami tidak ada yang salah dan Beliaupun tidak mau menyalahkan pendapat seseorang, satu kalimat yang selalu diucapkan oleh Prof Ali adalah “Gak apa-apa”.

Suatu hari, sebelum hari senin saya mendengarkan kabar yang sangat menyakitkan. Tepat pada hari kamis salah seorang saudaraku meninggal, dan itu membuatku tidak mengikuti perkuliahan selama beberapa hari. Tepat pada hari rabu saya kembali ke Sulawesi dalam keadaan yang tidak karuan, setelah mendengar kabar tersebut maka segera ke bandara untuk memesan tiket pulang dan saya sangat bersyukur karena bisa mendapatkan tiket secepatnya. Tak beberapa lama tinggal di bandara tiga orang temanku menyusul ke bandara dan itu lebih membuat agak merasa tenang. Tepat pada pukul 17.30 pesawat take off.

Setelah beberapa hari tinggal di rumah maka saya meminta izin kepada ibu untuk kembali ke Surabaya. Saya berangkat dari rumah ke Makasar pada hari ahad dan berangkat ke Surabaya pada hari senin tepat pada jam 05.00 subuh berangkat dari Makassar  dan alhamdulillah sampai dengan selamat pada jam 05.00 pagi di Surabaya. Saya sengaja mengambil penerbangan subuh karena saya tidak ingin melewati satu pertemuan pun dengan Prof Ali. Ketika saya sampai di Surabaya dengan segera saya langsung mencari taksi menuju ke kampus, ternyata ketika setengah dalam perjalanan kedaraan pun mulai berdempetan karena macet dan saya terkena macet sekitar satu jam lamanya, kemudian saya meminta kepada sopirnya untuk ngebut meskipun ngebut tapi sopirnya tidak mengantarku sampai dikampus akan tetapi saya sinngah tepat di depan kampus dan harus menyebrangi jalan karena jika saya meminta untuk diantarkan tepat dalam kampus maka saya akan telat lama mengikuti perkuliahan Prof Ali dan akhirnya saya bergegas berjalan kaki kembali ke asrama dan mengambil buku dan langsung menuju ke fakultas. Alhamdulillah pada hari senin saya bisa mengikuti perkuliahan walaupun terasa lelah dalam perjalanan.

Saya memasuki kelas agak terlambat. Setelah saya duduk beberapa menit, pandangan saya tertuju pada satu orang yang duduk tepat pada samping Prof Ali seakan-akan orang tersebut terasa asing dan sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Beliau. Ternyata Beliau adalah asisten Prof Ali lulusan dari universitas al-Azhar Mesir. Tak lama Beliau berbincang-bincang dengan Prof Ali kemudian Prof Ali bergegas meninggalkan kelas kami dan diambil alih oleh asisten Prof yang tadi. Beliau memperkenalkan diri di depan kami dan bercerita sedikit mengenai kehidupannya yang dahulu. Beliau sangat cakap dan ramah ketika berbicara dengan kami. Namanya adalah ustadz Ainul Yaqin yang beberapa tahun tinggal di Mesir.  Beliau juga bercerita tentag kehidupannya di Mesir. Kata Beliau, Beliau selama tinggal di Mesir jarang mengikuti perkuliahan karena Beliau sibuk berjualan di sana, akhirnya selama beberapa tahun tinggal di Mesir Beliau hanya berjaulan di sana, namun Beliau tetap mendapatkan berkah ilmu dan bisa mengetahui banyak hal selama Beliau tinggal di Mesir.

Beliau salah seorang Bloger yang aktif di dunia maya, dahulu ketika Beliau tinggal di Mesir setiap hari Beliau menulis status di facebook dan banyak tulisan-tulisan Beliau yang menarik untuk di baca seperti Cemburunya Bidadari Surga. Itu merupakan salah karangan dari Beliau yang membuat kebanyakan perumpuan menangis. Setelah beberpa jam bercerita maka Beliau masuk kepada materi tafsir dan menanyakan bagaimana sistematika perkuliahan Prof Ali. Kemudian setelah mengetahui sistematika maka Beliau melanjutkan materi tafsirnya dan menjelaskannya. Begitu jelas Beliau menjelskan materi dan juga memiliki wawasan yang luas. Waktu terus berjalan, tak terasa waktu belajar tafsir telah selesai sampai kami lupa akan waktu karena cerita Beliau sangat berkesan dan menarik.

Tak lupa Beliau menginformasikan kepada kami bahwa minggu yang akan datang ujian tulis pertama kalinya yaitu tafsir dengan versi al-Munir yang akan diambil alih oleh ustadz Ainul Yaqin sendiri. Ucapan salam telah dan perkuliahan pada hari itu alhamdulillah selasai dengan lancar, banyak kisah dan pengalaman yang kami dapat pada hari itu, hati terasa senang dan puas ketika mendapat pengajaran yang langsung cepat mudah tersimpan difikiran. Seperti biasa setiap hari ahad kami melakukan diskusi yang membahas tentang munasabah.

Tanpa terasa hari yang meneganggang telah tiba yaitu hari dimana kami akan melaksanakan ujian pertama mengenai tafsir, saya duduk tepat pada baris ketiga agak belakang. Tepat pada jam 07. 45 ustadz Ainul Yaqin telah tiba dan segera memasuki kelas. Dan mulai mengambil posisi duduk, sebelum memulai ujiannya terlebih dahulu kami membaca doa agar supaya dipermudah dalam menjawab soal. Doa sedang berlangsung dan Prof Ali memasuki kelas, setelah berdoa semua mata tertuju pada Beliau. Seusai doa ustadz Ainul Yaqin mempersiapkan lembar soalnya dan menyuruh kami untuk mempersiapkan kertas selembar, hati terasa dag dig dug ketika akan menjawab soal dari Beliau. Akhirnya ketika semuanya telah siap maka Beliau mulai membacakan soalnya. Sistemnya sama seperti dulu waktu semester satu. Ketika Beliau mulai membaca soalnya dan terkadang saya agak kualahan ketika menjawab soal yang berkenaan dengan ayat, kami disuruh melanjutkan ayat dan disitulah saya sering merasa kualahan.

Ustadz Ainul Yaqin menyiapkan sebanyak 40 soal dan kebanyakan yang masuk adalah ayat al-Qur’an. Tapi alhamdulillah kami dapat mejawabnya. Ketika soal terakhir dibacakan hati masih saja dag dig dug tak sabar mendengar soalnya ternyata soal yang paling terakhir adalah nama lengkap tafsir al-Munir.Kebanyakan dari kami tidak mengetahui nama pengarangnya tapi untungnya ustadz Ainul Yaqin memberikan opsi pertanyaan untuk mempermudah kami dalam menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya soal terakhir telah usai  dan sesi selanjutnya adalah masing-masing orang menghitung nilai ternyata aku mendapat  nilai yang cukup memuaskan yaitu nilai 88 meskipun ada keinginan untuk mendapatkan nilai yang lebih dari itu. Namun saya tak boleh menyesali apa yang kudapat, itu merupakan hasil dari belajarku dan saya harus menerimanya. Dan seharusnya saya mensyukuri dengan apa yang saya dapatkan karena itu merupakan kerja saya sendiri.

Setelah ujian selesai, Prof Ali langsung meminta tugas tafsir yang berupa softfiledan ketika Beliau memeriksa tugas kami ternyata masih banyajk kesalahan dan kekurangan sehingga untuk yang kesekian kalinya kami disuruh revisi lagi. Kemudian ketika selesai memeriksa maka Beliau kembali menjelaskan kata-kata atau tanda baca yang salah, dan tugas kami kebanyakan salah terhadap kosa katanya. Tugas kami dikembalikan lagi dan merevisi untuk yang kesekian kalinya. Setelah Beliau selesai memeriksa tugas kami maka Beliau memberi alih kepada ustadz Ainul Yaqin untuk melanjutkan materinya dan diselingi dengan bercerita atau memberikan semacam motivasi ataupun arahan. Tak terasa lamanya ustadz keasyikan bercerita dan kamipun keasyikan mendengar cerita ustadz Ainul Yaqin ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 lewat dan akhirnya ustadz menghentikan ceritanya seraya membaca kafaratul majlis dan mengakhirinya dengan salam. Hari itu terasa begitu lelah setelah melaksanakan ujian kemudian sorenya kami mengikuti kajian tepat di depan Auditorium.

Setelah seminggu lamanya, tiba kembalilah hari senin itu yang membuat saya selalu tegang karena akan mengikuti ujian dan juga bertemu dengan Prof Ali. Pada ujian yang kedua yaitu ujian tafsir versi al-Azhar dimana tafsir tersebut menurutku tafsir yang paling aneh dan susah bahasanya untuk dipahami, sehingga terkadang saya merasa malas untuk mempelajarinya. Ketika malamnya sejujurnya saya kurang belajar karena tiba-tiba rasa malasku kambuh lagi sampai-sampai pada malamnya tersebut saya ketiduran, rencananya saya ingin bangun sekitar jam dua untuk belajar tafsir tapi malah saya ketiduran sampai jam 03.00 subuh akhirnya saya hanya membaca tafsirnya sekilas saja dan tak lama setelah itu saya ketiduran lagi disisi lain saya ingin menangis karena saya sudah tidak punya kesempatan lagi untuk belajar padapagi harinya dan itupun saya kembali membaca-baca tafsirnya ketika waktu intensif tapi saya tak sedikitpun mendapatkan hasil dari bacaannya, namun disisi lain saya juga ingin menertawai diri saya sendiri karena sudah lalai, ceroboh, serta menyia-nyiakan waktu belajar saya.

Soal ujiannya tetap sama yaitu 40 soal banyaknya dan ternyata hasil yang saya dapatkan itu sangat mengecewakan yaitu nilai 58, hanya sebagian kecil saja yang benar, saya sangat menyesalinya. Waktu itu saya ingin menangis tapi saya juga berfikir buat apa saya menangis semuanya sudah terlambat lagian itu kesalahan saya sendiri. Nilai saya menurun drastis dari nilai 80an turu ke nilai 58. Hal itu sangat memalukan bagiku mendapatkan nilai terendah. Ustadz Ainul Yaqin sempat bertanya,

“Nur faega kenapa nilainya turun drastis? (sambil tersenyum)”

“(sambil tersenyum malu yang sangat) Gak tau ustadz” sahutku”

Kemudian Beliau hanya membalasnya dengan senyuman. Waktu itu saya sangat malu atas apa yang saya dapatkan.Usai pengumpulan nilai, tiba-tiba Prof Ali menyebut kata Sulawesi, saya sangat terkejut pada saat itu, kemudian Prof Ali menyuruh kami untuk mengacungkan tangan perwakilan dari Sulawesi dan menanyakan satu persatu di antara kami atas hasil yang kami peroleh. Saya sangat merasa malu karena rata-rata hasil dari Sulawesi adalah sekitar 50an.


 Pada saat itu saya ingin menangis karena perasaan malu yang sangat. Saya merasa minder dengan teman-temanyang lain. Prof Ali sempat memberikan motivasi untuk kami agar kami bisa mendapatkan nilai yang lebih baik daripada sebelumnya, pokoknya harapan Beliau minggu yang akan datang Sulawesi harus mendapatkan hasil yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Kemudian pada ujian yang keempat, menurutku nilaiku sama saja seperti biasa saya belum bisa keluar dari nilai angka 60an, nilaiku hanya naik dua point saja. Pada ujian yang keempat saya mendapatkan nilai yang masih sangat kurang memuaskan. Pada ujian kali ini adalah ujian tafsir versi Ibnu Katsir yang jauh lebih mudah dari tafsri versi al-Azhar. Tapi tetap saja saya belum bisa mendapatkan nilai yang memuaskan, lagi-lagi saya merasa malu apa yang saya dapatkan karena nilai 60an itu sudah terbilang rendah, lagi-lagi pada saat itu saya ingin menangis karena belum ada peningkatan sama sekali. Saya menyadari ternyata apa ynag kuusahakan belum bisa tercapai. Ketika semua nilai terkumpul maka Prof Ali menyebut nama kami satu per satu dan meberikan sekelumit pertanyaan sederhana dan menyebutkan beberapa prestasi yang pernah diraih dulu dipondok, kami tak tahu Beliau mendapatkan informasi tersebut dimana yang jelas di setiap ucapan Beliau tersebut rata-rata benar.

Beliau sempat menyebut prestasiku yang semenjak saya tinggal di pesantren dulu. Ketika Beliau menyebut namaku serta prestasiku saya langsung terkejut dalam benakku bekata “kok Prof Ali bisa tahu tentang prestasiku yang dulu? Padahal saya tak pernah cerita sama sekali baik itu kepada teman saya sendiri terlebih kepada Prof Ali” yang cuma tahu tentang prestasi saya hanya ustadzku yang di pondok dan saya sekalipun tidak pernah bercerita kepada yang lain. Ketika namaku disebut saya, Beliau sempat mengajakku berbincang-bincang dan ingin mengetahui apakah ucapan Beliau tadi itu benar atau salah.

“Nur Faega juara qiratul kutub yah?”

“(sambil berfikir saya hanya mengangguk menahan rasa malu) iya pak”

Kemudian Beliau mengajak saya bercanda, kata Beliau.

“Kutub mana Faega? Kutub utara?” sahut Beliau

“(saya hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman)”

“Lomba kitab apa Faega? Jangan-jangan lomba kitab ta’lim”

“Bukan pak, kitab Fathul qarib”

“(sambil mengangguk) oowh.....”

Kemudian Beliau menanyakan makan khas Sulawesi.

“Faega disana kamu selalu makan konro (salah satu makanan khas Sulawesi) gak?”

“Enggak pak” sahutku.
Sebagian teman-teman ada yang menertawaiku namun saya berfikir, wajar si mereka menertawaiku karena mungkin mereka tidak percaya atau tidak menyangka kalau saya pernah juara qiraatul kutub. Saya menadari bahwa kemampuanku dalam bahasa Arab kini jauh dibawah mereka.

Kemudian Beliau melanjutkan bertanya kepada teman-teman yang lain.

Ketika semuanya selesai ditanya oleh Beliau, maka Beliaupun bergegas untuk keluar dari ruangan karena mungkin ada urrusan yang lain sehingga tidak menemani kami sampai jam perkuliahan terakhir.

Kemudian suasana diambil alih oleh ustadz Ainul Yaqin, Beliau kemudian melanjtkan materi tafsirnya. Dan lagi-lagi sepderti biasa masing-masing kelompok harus memaparkan munasabah maing-masing, setelah mendengarkan munasabah masing-masing kelompok kemudian Beliau menjelaskan makna ayat tersebut beserta munasabahnya. Dimenit-menit terakhir Beliau membuka sesi pertanyaan, kemudian salah seorang di antara kami bertanya entah itu mengenai tafsir ataupun mengenai kehidupan sehari-harinya.
Setelah selesai menjawab Beliau langsung membaca kafaratul majlis kemudian langsung mengucapkan salam.

Pada ujian selanjutnya lagi-lagi nilainya mengecewakan, saya mendapatkan nilai 65. Ternyata pada minggu itu saya belum bisa keluar ke nilai 60an entahlah saya tak mengetahui faktor apa yang membuatku nilai saya menurun. Yang terpenting saya sudah berusaha dan mengerjakannya sendiri. Saya tidak akan pernah menyesali apa yang saya dapatkan tapi saya menyesali apa yang saya perbuat.

Selalu saja saya dihantui oleh rasa malu, selalu saja rasa malu itu bersemayam dalam diriku padahal ketka saya bertanya kepad teman-temanku mengenai nilai-nilai mereka seakan-akan mereka bersikap biasa-biasa saja tanpa memiliki beban sama sekali. Pernah saya bertanya kepad salah seorang teman saya mengenai nilainya,

“Hey..... kamu dapat nilai berapa?” tanyaku

“kemudian dia menjawab, saya mendapatkan nilai 40 sekian”

“kamu gak merasa terbebani sama sekali atas apa yang kamu dapatkan?”

“tidak (dengan jawaban yang datar)”

Itulah sekelumit karakter orang yang berbeda-beda. Orang terkadang merasa terbebani ketika dia terlalu memikirkan hal-hal yang tidak semestisnya untuk dipikirkan, jika masalah itu terus-terus dipikrkan maka selamanya kita merasa terbebani oleh.

Pada ujian kali ini Prof Ali tidak menemani kami sampai jamnya selesai karena Beliau ada urusan lain yang harusdiselesaikan terlebih dahulu. Kemudian Beliau pamit terlebih dahulu dan mempercayakannya kepada ustadz Ainul Yaqin untuk mengambil alih kelas kami.

Kemudian pada ujian selanjutnya, lagi-lagi saya belum bisa keluar dari nilai 60an, pada berikutnya saya mendapatkan nilai 68 hanya nai beberapa point, saya tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya, dan saya pun menyadari sebenarnya begitu banyak beaban yang saya pikirkan sampai-sampai saya tidak bisa begitu konsen dalam belajar.

Tepat pada hari sabtu, dimana pada hari itu adalah hari pertama mengadakan kajian yang berupa pengajaran bahasa Arab. Pada hari pertama tersebut tepat pada pukul 07.30 kami berkumpul di depan SAC untuk memgikuti kajian, saya agak terlambat pada waktu itu. Materi pada hari itu adalah ustadz memberikan imla’, Beliau menyebutkan bahasa Arabnya kemudian kami menulis apa yang disebutkan oleh ustadz, kami menulis sesuai dengan kemampuan kami.

Pagi yang begitu cerah untuk memulai perkuliahan hari itu pada tanggal 27 April 2015. Pagi itu kubergegas untuk berangkat ke kelas untuk mengikuti kelas intensif bahasa Arab. Setelah mengikuti kelas intensif bahasa Arab tepat pada pukul 07.45 dosen kami datang yaitu ustadz Ainul Yaqin dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna merah maron dengan celana berkain hitam, bersepatu hitam, Beliau berjalan memasuki kelas kami dengan tegak yang dihiasi dengan senyuman diwajahnya seakan-akan setiap orang yang melihatnya merasa senang dan ikut tersenyum ketika melihat Beliau, keberadaan Beliau di kelas kami seakan-akan kelas kami menjadi kelas yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan karena ilmu dan wawasan yang Beliau miliki sangatlah luas serta bahasa Arabnya pun begitu fashih. Hari itu seperti hari yang yang kemaren dimana kami memasuki kelas dengan perasaan tegang yang di selingi juga dengan perasaan bahagia, disisi itu kami merasa tegang karena kami akan melaksanakan ujian yang kesikian kalinya tapi disisi lain kami juga sangat bahagia karena akan berjumpa dengan dosen besar UIN SUNAN AMPEL Surabaya. Banyak pelajaran yang dapat petik hikmahnya ketika Beliau sedang berbicara. Setelah berada di kelas, awalnya dalam keadaan ramai tapi ketika Beliau masuk teman-teman yang awalnya ribut dan tak tahu mereka lagi memabahas apa langsung menjadi sunyi karena penghormatan kami terhadap Beliau, seperti hari-hari kemaren ustadz Ainul Yaqin ketika dalam kelas Beliau meletakkan tasnya dimeja kemudian duduk dan menyuruh kami untuk membaca doa, Belaiu sangat menghayati dan meresapi ketika membaca doa.setelah selasai membaca doa Beliau berbicara sedikit sebagai pengantar awal perkuliahan pada pagi itu, kami dengan segenap hati dan penuh kesungguhan mendengarkan cerita Beliau, Beliau bercerita seakan-akan mengambil perhatian kami untuk mendengarkannya karena ketika Beliau becerita Beliau benar-benar dipenuh reaksi, mimik wajahnya serta retorika Beliau ketika berbicara sungguh menarik perhatian. Beliau juga memberitahukan kepada kami bahwa Beliau tidak membeli minuman karena uangnya telah dibelanjakan paketan, ini semua karena kebutuhan Beliau. Setelah Beliau bercerita, hal yang paling menegangkan ketika hari senin adalah hari dimana kami ujian tulisan.

 Ujian tulisan berlangsung dan ustadz mulai membacakan soalnya sekitar 20 soal. Soalnya lebih sedikit dari ujian sebelumnya karena pemabahasan kali ini lebih sedikit dari sebelumnya yaitu tafsir versi al-Azhar, di dalam pembahasan tersebut hanya ada tiga ayat yaitu surah al-Isra’ [17]: 70 yang membahas menjaga kehormatan setiap individu.
Ketika Beliau memberikan soal ujian yang berkenaan dengan materi ini seperti biasa perasaanku begitu saja gugup karena kami tidak tahu kejutan apalagi yang di berikan ustadz untuk kami, ternyata soalnya begitu mudah tapi jawabannya begitu sulit untuk dikerjakan, soalnya begitu mengeco terkadang ustadz mengubah nama dari seseorang ataupun mengubah sedikit demi sedikit kata-katanya sehingga kami lebih bisa berkonsentrasi dan lebih teliti lagi dalam menjawab soal yang diberikan oleh Beliau, jantung tak henti-hentinya terus berdegub kencang ketika pertanyaan yang satu sudah selesai dan akan dilanjut lagi dengan pertanyaan yang selanjutnya, ketika pertanyaan Beliau kurang jelas maka Beliau dengan sabarnya mengulang kembali pertanyaan tersebut sampai semuanya faham kemudian jika diantara kami tak ada seorang pun yang mengetahui jawaban maka pertanyaan tersebut diganti dengan pertanyaan yang lain agar supaya lebih memudahkan lagi menjawab soal.
Di tengah berlangsungnya ujian kami tiba-tiba Prof Ali berjalan dari luar kemudian Beliau memasuki kelas kami, semua mata tertuju pada Beliu. Beliau memasuki kelas kami seperti biasa berjalan dengan tegak dan begitu gagahnya memegang beberapa buku ditangan kirinya. Pada saat itu Beliau mengenakan kemeja putih yang bercorak garis-garis panjang hitam dan juga mengenakan celana panjang berwarna hitam serta mengenakan sepatu hitam, begitu rapinya pakaian Beliau dan seharusnya para mahasiswa mencontoh kerapian pakaian Beliau. Ketika Beliau berada di dalam kelas kemudian Beliau bergegas duduk di sebelah ustadz Ainul Yaqin dan menyaksikan kami melaksanakan ujian, kemudian disela ujian kami terkadang sekali-kali Beliau bercanda atau memberikan kata-kata motivasi kepada kami.
Seusai melaksanakan ujian tulisan maka ustadz Ainul Yaqin memerintahkan kepada kami untuk saling menukarkan lembar jawaban kami kepada teman yang duduk diseblah kami masing-masing, namun Prof Ali mengatakan “Khusus untuk hari ini semuanya periksa lembar jawaban masing-masing” dan menurutku ini merupakan sutu tantangan kepada setiap mahasiswa karena untuk menilai seberapa besarkah sifat jujur yang kita miliki dan itu tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Aku percaya setiap kejujuran pasti akan mendapatkan suatu hal yang tidak diduga-duga nantinya. Kemudian saya juga selalu mengingat kata-kata Prof Ali yang intinya janganlah kamu menyesali atas apa yang kamu dapatkan. Dan disisi lain saya teringat akan kata-kata dari sahabat saya dulu semasa di pesantren dulu bahwa “tidak selamanya mendapatkan apa yang kita inginkan, Allah selalu mendengarkan doa hamba-Nya namun terkadang Allah tidak secara langsung mengabulkan doa hamba-Nya akan tetapi Allah menggantikan apa yang hamba-Nya. Kemudian masing-masing mahasiswa memeriksa lembar jawabannya, dan ketika ustadz Ainul Yaqin menyebutkan jawabannya hati, perasaan seakan-akan remuk karena disetiap jawaban kami yang benar mendapatk lima point. Peyocokan jawaban telah usai dan akhirnya masuk kepada tahap terakhir yaitu masing-masing orang harus menyebutkan nilai atau hasil yang mereka dapatkan, apapun hasilnya rendah atau sempurna itu semua karena hasil usaha kita yang telah dilakukan sebelum ujian.
     Setelah penghitungan nilai selesai msing-masing kami harus menyebutkan nilainya dan disaat teman-teman saya sibuk menghitung nilai saya tanpa sadar melamun entah apan yang saya pikirkan, mungkin pada saat itu saya merasa rindu yang sangat terhadap ibu sehingga dalam proses ujian saya kurang berkonsentrasi sampai-sampai ketika saya ditanya mengenai nilai yang saya dapatkan saya menjawab yang asal-asalan, hari itu benar-benar hari disaat aku merasa pling plang. Waktu itu saya sangat merasakan pusing yang sangat sakit sehingga setiap apa yang saya kerjakan pada hari itu terkadang merasa malas. Pada saat itu saya menyebutkan nilai 78 dan sebagian teman-teman menertawai dan saya merasa santai-santai saja ketika saat itu karena saya belum mengerti apa yang mereka tertawai dan semua mata tertuju kepadaku,dan ustadz pun kaget pada saat itu dan mengatakan:
“Gak ada nilai 78 yang ada hanya nilai 75” kata ustadz Ainul Yaqin
Kemudian salah seorang dari teman yang duduk di sebelah saya mengiingatkan kembali,
“Hey..... Ga, nilai 78 itu gak ada yang ada hanya nilai 75” kata dinda
Dengan perasaan malu yang sangat saya menyadari dan memikirkan lagi nilai yang saya dapatkan dan ketika sudah mengetahui nilai yang saya dapatkan sebenarnya maka saya langsng mengulangi menyebutkan nilai saya sebetulnya. Dengan persaan malu yang sangat, saya langsung mengulangi menyebutkan nilai yan saya dapatkan yaitu nilai 75. Dengan cepatnya hal itu berlalu begitu saja.
Tak lama kemudian, setelah pengumpulan nilai telah selesai, teman saya mengingatkan lagi mengenai masalah nilai yang kudapatkan, dia bertanya:
“Ga..... sebenarnya kamu salah berapa sih?” kata Dinda
“Pumyaku salah 4 din” kataku
“sebenarnya nilai yang kamu dapatkan adalah 80 ga karena salah 4” kata Dinda
“ya udah..... tolong kamu bilangin nanti kepasda ustdznya tentang nilaiku” kataku.
            Tiba-tiba perasaan malu itu kambuh lagi yang kedua kalinya karena sebagian dari teman-temanku menertawaiku, kemudian dengan segera ustadz Ainul Yaqin mengubah nilai saya didaftar nilainya, saya merasa sudah membuat ustadz Ainul Yaqin repot tapi dengan sabarnya ustadz itu terus tersenyum seakan-akan ustadz tak memiliki beban sama sekali untuk mengubahnya dan kami melihatnya begitu senang seakan-akan Beliau tidak mau memberikan beban kepada kami.
            Usai pelaksanaan ujian pada tanggal 27 April 2015, maka dengan segera ustadz Ainul Yaqin mempersilakan kepada Prof Ali untuk berbicara. Kemudian Pro Ali memberikan beberapa motivasi menulis kepada kami,, sebelum memberikan motivasi menulis kepada kami maka Prof Ali bertanya kepada beberapa orang sudah sampai mana kami menulis dan sudah sampai berapa halaman kami menulis, kemudian Beliau juga betanya kendala kami saat menulis. Beberpa orang mengungkapkan kendalanya keitika menulis, Beliau mengatakan:
            “Anak SD bisa menulis karena tidak mempunyai beban” kata Prof Ali
            Beliau berpendapat bahwa anak SD itu bisa menulis begitu banyak karena mereka tidak memiliki beban sama sekali yaitu beban dalam menulis, mereka hanya menulis seadanya tanpa memikirkan apa yang mereka tulis, mereka menulis sesuai apa yang ada terlintas di benak fikiran mereka tanpa memikirkan benar salahnya apa yang mereka tulis, mereka menulis tanpa memikirkan titik koma yang terdapat dalam stiap paragraf. Oleh karena itu Prof Ali menyimpulkan bahwa ketika kita ingin menulis maka menulislah seadanya, jangan pernah sekali-kali menganggap bahwa menulis itu adalah beban. Tulis saja apa yang ada di dalam benak atau pikiran, jangan pernah pikirkan benar salah apa yang kita tulis. Kemudian Prof Ali juga sempat berkata bahwa “jadi beruntuglah menjadi orang tuli.”
            Kemudian salah diantara kami bertanya, “Bagaimana jika kita malas untuk mennulis?”
“Sebenarnya masing-masing kalian memiliki potensi akan tetapi untuk memnculkan potensi kalian maka kalian harus dipaksa terlebih dahulu. Maka beruntunglah kalian bertemu dengan orang yang suka memaksa.” Kata Prof Ali.
Kemudian dilanjut lagi dengan kata-kata Beliau bahwa “jika kalian disuruh mengerjakan tulisan sebanyak 50 lembr sebelum mengikuti ujian maka saya yakin kalian pasti bisa melakukannya, itu semua karena paksaan.” Kata prof Ali
Dari perkataan Prof Ali tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memunculkan potensi yang ada dalam diri kami maka harus dipaksa terlebih dahulu. Prof Ali sangat berusaha dan menginginkan kelak kami akan menjadi seorang penulis besar  dimasa yang akan datang dan itu merupakan harapan terbesar Beliau untuk kami. Jadi, mulai dari sekarang Prof Ali sangat menggenjot kami untuk menulis sampai berpuluh-puluh halaman dan hasilnya akan kami dapatkan d kemudian hari jik kami sudah keluar dari kampus UIN SUNAN AMPEL Surabaya. Betapa pedulinya Beliau terhadap anak PBSB, dan Beliau sangat mengistimewakan anak PBSB seperti kami. Prof Ali tak henti-hentinya memberikan semangat kepada kami untuk tetap menulis dan terus menulis. Salah perkataan Beliau yang menarik yaitu “lebih baik tanganmu patah tapi saya masukkan ke surga daripada tanganmu tidak patah tapi masuk neraka.” Perkataan inilah yang menambah motivasiku untuk tetap menulis meskipun apa yang kutulis termasuk tulisan yang tidak jelas. Terkadang saya menertawai diriku sendiri karena tulisan saya yang begitu rancu serta pembendeharaan katanya sangat miskin sehingga setiap kata-kata yang kutulis sangatlah membosankan dan aku menyadari hal itu akan tetapi saya memiliki semangat yang sangat besar untuk menulis,, itu senua karena motivasi Prof Ali yang selama ini terus mendorong kami untuk terus menulis.
Selang beberapa waktu Beliau memberikan motivasi kepada kami, Beliau memperlihatkan beberapa buku, salah satu buku yang menarik perhatian saya adalahEfek Terima Kasih. Buku ini membahas tentang seseorang yang yang selalu berterima kasih kepada siapa saja yang pernah memberikan kebahagiaan untuknya baik itu berupa pelajaran, pengalaman maupun kebaikan-kebaikan yang lain. Kemudian setelah Beliau memperlihatkan beberapa bukunya, Beliau langsung menanyakan kepada beberapa diantara kami mengenai tulisan kami, seberapa banyakkah tulisan yang telah kami tulis. Saya sempat ditanya oleh Beliau bahwa berapa banyakkah tulisan yang telah saya tulis, kurang lebih redaksi percakapanya seperti ini:
“Mbak sudah tulis berapa halaman?” kata Beliau
“Kurang lebih sembilan halaman pak” kataku
“Kalau setiap hati anda menulis sembilan halaman, maka tulisan anda akan cepat selesai” kata Beliau
“Iya pak (sambil mengangguk-angguk)” kataku
Setelah menanyakan kepada beberapa diantara kami, maka Beliau kembali duduk disamping ustadz Ainul Yaqin sembari meminta tugas tafsir masing-masing setiap kelompok dengan mengatakan “Semoga tugas kali ini sudah tidak ada yang salah”. Kamipun tersenyum mendengar perkataan Beliau karena kami sudah revesi berkali-kali kurang lebih sudah 5 kali. Setelah semua tugas selesai terkumpul maka Beliaupun bersiap-siap untuk keluar ruangan dan memberikan lagi kesempatan untuk berbicara kepada ustadz Ainul Yaqin. Kemudian ustadz Ainul Yaqin mengambil alih pembicaraan dikelas dan meminta silabus tafsirnyakemudian menentukan ujian kami pada minggu yang akan datang dan Beliau juga menginformasikan kepada kami bahwa akhir mei adalah dimana kami ujian tafsir lisan, pada ujian inilah kami diuji seberapa besarkah keseriusan kami selama belajar bersama Prof Ali dan ustadz Ainul Yaqin. Pada ujian itu kami harus mengafal beberapa ayat, tahsinul Qur’an serta mungkin beberapa pertanyaan tentang pelajaran tafsir.
Tak lama kemudian Beliau menyuruh kami untuk menyatu dengan kelompok masing-masing seperti biasa kelompok tafsir versi al-Munir berada pada pojok pas depan meja dosen, kemudian tafsir versi al-Azhar juga berada pada pojok berhadapan dengan tafsir versi al-Munir akan tetapi tafsir al-Azhar pojok dekat pintu, sedangkan tafsir versi Ibnu Katsir berada tepat ditengah pojok belakang. Satu per satu kelompok membacakan ayat jika masih banyak waktu, kemudian munasabah, dan yang terakhir kesimpulannya. Kami membaca secara bergiliran. Kemudian setelah membaca masing-masing versi maka Beliau menjelaskan munasabah dari ayat yang telah kami baca tadi. Sedikit kutipan dari penjelasan Beliau yaitu Beliau memberikan pertanyaan kepada kami bahwa “Nikmat apa yang paling agung, yang paling besar?”, kemudian Beliau memberikan kesempatan kepada kami untuk memikirkan jawabannya namun tak ada satu pun yang mengetahui nikmat itu, maka Beliau langsung menjawab “Nikmat yang paling agung adalah bukan nikmat sehat wal’afiyat akan tetapi nikmat yang paling agung yaitu nikmat Iman dan Islam serta nikmat menjadi umat Rasulullah saw...... Subahanalloh, Alhamdulillah.
Pembahasan telah selesai pada hari itu, seperti biasa ketika akan mengakhiri pelajaran pada hari itu Beliau bercerita terlebih dulu sebelum keluar, Beliau selalu memberikan motivasi atau beberapa arahan mengenai kehidupan kedepannya. Kami sangat bersyukur memiliki dosen seperti Beliau yang dengan sabarnya memberikan nasehat serta arahan, dan kami pun bangga dengan Beliau karena ilmu yang Beliau miliki begitu luar biasa meskipun lulusan S1 al-Azhar tapi Beliau mampu mengalahkan ilmu dari dosen-dosen dari Indonesia lulusan S2..... Subahanalloh. Perasaan kagum ini terus-terusan ada seakan-akan kami merasa ingin menjadi lebih dari Beliau. Salah satu yang sangat berperan dalam menuntut ilmu adalah ketika kita bisa mendapat berkah dari para guru yang mengajari kita karena tanpa berkah ilmu yang kita miliki akan hanya menjadi sebatas nama belaka dan tidak akan berbekas umtuk kedepannya. Namun, terkadang saya merasa sedih ketika mengingat masalah berkah, saya bertanya-tanya kepada diriku sendiri “Apakah saya sudah mendapatkan berkah?”. Hal itu terus menjadi objek pikiranku selama ini. Seusai memberikan motivasi kepada kami Beliau mengakhiri perkuliahan pada hari itu dengan membaca kafaratul majlis.
Pada tanggal 2 Mei 2015 tepat pada hari sabtu pada jam 07.30 pagi ustadz Ainul Yaqin mengadakan kajian belajar bhs. Arab dan sejarah Rasulullah saw. Hari itu merupakan hari yang tidak cerah dimana hari itu hujan mengguyur kota Surabaya sehingga pada saat itu kami bingung apakah kajiannya akan tetap dilaksanakan ataukah tidak, kami mengira ustadz Ainul Yaqin tidak akan datang menghadiri kajian tersebut ternyata Subahanalloh ustadz Ainul Yaqin tetap datang, dengan kesungguhan Beliau dalam hal mengajar Beliau rela kehujanan demi untuk bisa memberikan pengajaran kepada kami. Pada hari itu Beliau mengenakan batik berwarna keabu-abuan dengan celana panjang yang berwarna agak orange kebata-bataan. Beliau duduk tepat didepanku dengan jarak yang cukup jauh dan dihadapannya terdapat beberapa lembar kertas putih yang berukuran A4 bertuliskan bahasa Arab, ternayata kertas tersebut adalah kertas tugas kita minggu lalu, kemudian ditangannya juga terdapatflashdisk. Flashdisk tersebut diberikan kepada salah seorang teman yang duduk disamping Beliau dan menyuruh untuk mengopy salah satu file yang ada di dalamnya.  Sambil Flashdisk itu bergulir kepada teman-teman yang lain maka Beliau juga membagikan kertas tugas kami pada minggu lalu kemudian sambil membagikan kertas tersebut Beliau juga menanyakan sekilas materi nahw saraf kepada kami. Adapun nama yang paling pertama dipanggilnya adalah namaku saya sangat terkejut ketika mendengar nama saya yang dipanggil, kemudian Beliau bertanya kepadaku tentang nahw saraf. Awalnya saya kurang paham atau kurang mendengarkan entahlah, dengan pertanyaan yang diberikan kepada saya akan tetapi ketia Beliau menyebut kata Maf’ul bih maka saya langsung mengerti dengan pertanyaan Beliau, kemudian Beliau menyuruh saya untuk memberikan salah satu contoh dari Maf’ul bih dan alhamdulillah saya bisa menjawabnya.
Setelah pembagian kertasnya telah selesai dan teman-teman sudah mengopy file yang diberikan ustadz maka langsung saja ustadz memulai pembahasan pada hari itu dan menyuuh kami untuk membuka file yang tadi sudah di copy dan memberikan waktu kepada kami untuk membacanya dan mengerti teksnya. Beberapa menit yang telah diberikan kepada kami maka Beliau menyuruh kami untuk mencerikan kembali dengan menggunakan bahasa Arab namun ketika giliran saya, saya tidak bisa berbicara sedikitpun, saya bingung untuk memulai berbicara akhirnya waktu yang diberikan untuk saya habis tidak ada kesempatan saya lagi untuk berbicara kemudian kesempatan itu pindah ke teman yang duduk disampingku.
Adapun materi pada hari itu adalah kisah Aisyah yang ikut berperang bersama nabi yang berjudul Aku, Istri Nabi yang Tertuduh, sekilas kutipan materinya, “Seperti biasa, sudah menjadi kelumrahan bilamana Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi nama istri-istrinya terlebih dahulu. Nama siapakah yang keluar, dialah yang berhak mendampingi Rasulullah. Perang melawan Bani Mustaliq sudah ditetapkan dan Rasulullah sendiri yang akan pergi memimpin peperangan. Malam itu diundilah nama para istri beliau, kiranya siapa yang akan menemani beliau selama peperangan Bani Mustaliq.
Aisyah binti Abi Bakar, itulah nama yang disebut Rasulullah. Sontak wajahku merona gembira mendengar namaku disebut. Sungguh aku tak percaya. Rasa gembira yang membara bercampur lebur dengan keraguan, apakah benar namaku yang keluar dan berhak menemani Rasulullah berjuang membela agama Allah kali ini? Sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa menyertai dan melayani beliau berjihad di jalan Allah. Peperangan dengan Bani Musthaliq terjadi selepas ayat Hijab turun. Otomatis, aku berhijab seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. Aku pun dinaikkan di atas unta yang memanggul haudah.
Setelah peperangan rampung dan begitu mudah kemenangan diraih oleh kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Madinah. Kami pun berombongan kembali menuju tanah air kami yang penuh dengan cahaya kenabian. Tatkala semerbak aroma Madinah tercium, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti di suatu tempat sejenak, agar kami bisa melepas lelah malam itu. Ya, inilah salah satu dari kebijaksanaan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya. Beliau sangat memahami betul kondisi dan keadaan kami yang memang amat sangat letih kala itu. Rasulullah tidak memaksakan kehendaknya untuk memasuki kota Madinah malam itu juga, beliau memilih berhenti dan mengistirahatkan semua pasukan Islam yang telah memperoleh kemenangan.
Saat semua sahabat beristirahat dan sebagian yang lain terlelap, aku putuskan keluar dari tenda kecilku menunaikan sedikit keperluanku hingga tak kukira langkahku semakin menjauh dari rombongan. Gegap gempitanya malam membuatku tak sadar, posisiku sangatlah berjarak dengan unta yang kunaiki. Selepas merampungkan keperluanku dan hendak kembali ke rombongan, tiba-tiba aku terkesiap bukan main. Kuraba leherku, kalung pemberian Rasulullah dari kota Zifar - Yaman raib. Kuputuskan mencarinya. Dalam malam yang begitu hitam, amat susah menemukan sebuah kalung. Tapi itu kalung pemberian Rasulullah. Tak boleh kubiarkan begitu saja. Aku harus mencarinya dan menemukannya.
Mondar-mandir, kulalui berkali-kali jalan yang kutapaki tadi, tak jua kutemukan kalung itu. Ya Allah, istri macam apa aku ini yang menyia-nyiakan perhiasan pemberian suami. Apalagi itu kalung yang istimewa dan impor dari Yaman. Kuulangi lagi pencarianku hingga aku pun putus asa dan kembali ke rombongan dengan rasa cemas, malu, takut, sungkan bila bertemu dengan suamiku, Rasulullah.
Astaghfirullah, Rasulullah dan rombongan tak terlihat lagi. Mereka meninggalkanku. Bagaimana ini? Apa yang akan kulakukan? Menyusul mereka sendirian berlari? Tak mungkin. Aku buta arah jalan ke Madinah. Teriak? Siapa yang akan mendengar. Air mataku meleleh membanjiri pipiku. Ingin menyesali kejadian ini, tapi untuk apa? Bukankah ini sudah takdir Allah?
Dalam kegalauanku, secercah cahaya berkilau di tanah pijakan untaku saat istirahat tadi, kulihat sebuah logam berbentuk kalung. Kudekati. Dan Alhamdulillah kalungku ketemu. Rasa cemasku lantaran ditinggal Rasulullah bertabrakan dan melebur menjadi satu dengan kegembiraan ditemukannya kalung pemberian Rasulullah. Oh ya, orang-orang yang menuntun untaku mungkin mengira aku sudah berada dalam haudah itu. Aku wanita muda bertubuh ringan, lantaran itulah, mereka begitu saja menuntun unta yang aku tunggangi mendahului rombongan terdepan. Mereka tak sadar bahwa unta yang mereka giring hanya sebuah haudah kosong tak berhuni. Aku juga salah, mengapa aku tidak memberitahu mereka kalau aku keluar sedikit lama untuk sebuah keperluan pribadiku? Memang, para wanita kala itu umumnya berbadan lunak dan tak berlemak. Jadi ada atau tidak ada orang di dalam haudah sepertinya sama saja.
Dengan penuh harap, semoga mereka sadar dan merasa kehilangan aku, kuputuskan duduk di tempatku semula sewaktu beristirahat bersama rombongan. Entah mengapa, mendadak rasa kantuk begitu akrab dan cepat menyapaku.  Aku pun pulas tertidur. Dalam kenyenyakanku, Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy menyeruak, ia memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Bila ada barang rombongan yang tertinggal, dialah yang menyelamatkan barang itu hingga sampai ke Madinah. Shafwan menghampiriku. Ia memang mengenaliku dan pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Saat ia tahu akulah yang bersimpuh dalam sengatan kantuk itu, ia pun berucap inna lillah wa inna ilaih rajiun, aku terkejut dengan ‘kalimat musibah’ yang ia lengkingkan. Seketika kututup wajahku dengan hijab. Demi Allah, tak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya kecuali kalimat istirja’ itu. Mulutku juga tak mengeluarkan kalimat apapun barang sekata. Ia rundukkan hewan tunggagannya hingga aku bisa menaiki hewan tunggangan itu.
Kami teruskan perjalanan menyusul rombongan, Shafwan berjalan menuntun tunggangannya hingga sampailah kami di sungai Az-Zahirah, tempat singgah rombongan di tengah panasnya siang. Dan celakalah, sebagian orang menebarkan fitnah kebohongan dengan menuduhku ini dan itu. Masih terekam dalam ingatanku yang paling getol menyebarkan berita palsu itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Selain Abdullah bin Ubay bin Salul, Hassan bin Tsabit juga terlalu gegabah menelan dan menyiarkan berita nista itu. Misthah bin Utsasah, Hamnah binti Jahs dan orang-orang lain yang tak kutahu namanya satu persatu yang jumlahnya sekitar 10 sampai 40, ikut pula menjadi biang gosip. Sesampai di Madinah, aku sakit dan merasa tak enak badan selama satu bulan. Sungguh, aku tak tahu-menahu fitnah kebohongan dan berita palsu itu telah memenuhi telinga masyarakat Madinah selama sebulan. Kecurigaanku pun muncul tatkala kelembutan Rasulullah mulai menipis dan tak seperti biasanya di saat aku melawan demam dan sakitku. Biasanya Rasulullah begitu memanjakanku kala aku sakit. Namun beliau sedikit berubah. Beliau hanya menyapaku dengan bertanya tentang keadaanku, kemudian berlalu begitu saja.
Suatu malam, aku keluar ditemani Ibunda Misthah bin Utsasah untuk membuang hajat. Sewaktu hendak kembali ke rumah, Ibu Misthah tersandung sembari mencela anaknya sendiri, Misthah.
“Sungguh buruk kata-katamu. Apakah kau mencela seseorang yang pernah berjuang di peperangan Badar?” kataku padanya.
“Nak, tidakkah kau mendengar apa yang ia katakan?” ia malah bertanya kepadaku.
“Apa yang telah ia katakan?”
Ibu Misthah menceritakan tuduhan keji tentangku yang didengungkan oleh sebagian orang. Sakitku makin menjadi-jadi. Dan sesampainya di rumah, aku meminta izin Rasulullah agar menetap sementara di rumah orang tuaku, guna memastikan ke kedua orang tuaku tentang tuduhan keji itu. Rasulullah mempersilahkan.
Lalu aku bertanya kepada ibuku, “Ibu, apa yang menjadi gunjingan orang-orang?”
Ibuku menenangkanku agar tidak risau dan gelisah. Mendadak mataku mendung, menderaskan air mata dan membasahi pipiku sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Rasulullah yang cukup gusar akan suara-suara negatif tentang istri dan rumah tangganya, meminta pendapat kepada Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,” begitulah jawaban Ali.
Rasulullah bertanya kepada Barirah tentangku, apakah ada sesuatu yang meragukan dari diriku? Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diriku. Aku hanyalah seorang wanita yang masih muda yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu. Demikian Barirah menceritakan tentang diriku di hadapan Rasulullah.
Sepanjang hari itu air mataku berlinang dan tidurku sangat jauh dari rasa tenang. Hingga kedua orang tuaku berada di sisiku, aku tetap saja menangis. Dua malam satu hari, air mataku bercucuran dan tidurku tak karuan. Salah seorang perempuan Anshar meminta izin untuk menemaniku. Ia pun turut meratapi kesedihanku.
Rasulullah datang ke rumah orang tuaku. Beliau belum pernah duduk di sampingku selama tuduhan keji itu tersiar.
Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar berita tentang dirimu. Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu (dengan membelamu). Dan jika kau melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.”
Setelah Rasulullah selesai menyampaikan kalimat itu, kuhapus air mataku hingga tak tampak setetes pun. Aku meminta ayah dan ibuku agar membelaku di hadapan Rasulullah. Tapi keduanya tak kuasa berkata-kata.
Dengan sesenggukan aku berkata kepada mereka, “Aku hanyalah wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran. Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari perbincangan orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian dan kalian percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan keji itu, kalian tak akan mengaminiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu –meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian selain seperti Nabi Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.”
Usai kuutarakan kegundahanku, tempat tidurkulah menjadi penenangku. Sungguh Allah mengetahui aku benar-benar bersih dari berita miring itu dan Allah yang akan membebaskanku. Jujur aku tak mengira Allah menurunkan wahyu membebaskanku dari tuduhan itu. Rasanya tak pantas bila wahyu turun lalu dibaca semua orang hanya menyoal tentang masalah pribadiku. Aku ini siapa hingga Allah membicarakan masalahku. Aku hanya mengharap Rasulullah mendapatkan wahyu melewati mimpi tentang pembebasanku dari fitnah itu.
Dan demi Allah, Rasulullah enggan beranjak dari tempat itu dan tak satu pun dari keluarga kami –ayah ibuku yang merupakan mertua Rasulullah- berminat melangkahkan kaki, hingga wahyu turun kepada Rasulullah. Seketika keringat beliau bercucuran bak butiran mutiara, padahal kala itu musim dingin amat menusuk tulang kami. Wajah beliau berseri dan tersenyum.
“Wahai Aisyah,  sungguh Allah telah membersihkan dan membebaskanmu dari tuduhan itu.” Itulah kalimat pertama yang kudengar dari suamiku.
Spontan, ibuku menyuruhku bangkit dan menemui Rasulullah.
“Demi Allah, aku tak akan bangkit kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun selain Allah.” jawabku.
Ya, akulah istri Rasulullah yang tertuduh. Dan Allah membebaskanku dari tuduhan itu dengan firman-Nya yang membuat air mataku teduh. Aku Aisyah, istri Rasulullah yang terfitnah.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) [QS: An-Nur]”.
            Itulah kutipan dari kajian kami pada hari itu. Ketika semuanya selesai berbicara maka Beliau melanjutkan pembahasan kajian yaitu Beliau membahas tentang sejarah Rasulullah dan juga Beliau sempat memperlihatkan foto sandal Rasulullah, kemudian Beliau menjelaskan tentang sandal Rasululah serta nikmat yang Allah berikan kepada kita. Bahwa ada dua nikmat Allah yang paling agung yaitu nikmat iman islam dan nikmat menjadi umat Rasulullah..... Alhamdulillah.
            Beliau sempat menyinggung nikmatnya shalat bahwa pernah ada seseorang yang shalat, ketika dia sujud dia merasakan ada Rasulullah saw di belakangnya sedang memeluknya dan Rasulullah pun tersenyum..... Subahanalloh.
            Kisah singkat ini seakan-akan menyentuh hatiku untuk lebih baik lagi ketika melaksanakan shalat. Saya menyadari selama ini jika saya melaksanakan shalat belum bisa khusyuk sampai akhir shalat bahkan ketika berdoa pun terkadang saya terlalu mementingkan diriku sendiri bahkan lupa mendoakan orang-orang yang berada di sekitar saya. Lewat tulisan ini saya sangat sangat berterima kasih kepada Beliau yang telah mengingatkan nikmat dan pentingnya melaksanakan shalat lebih baik lagi. Saya pun menyadari terkadang kita shalat hanya memperlihatkan kekufuran dan kesombongan diri kita sendiri, seringkali kita mengingat Allah hanya dalam keadaan susah saja dan lalai ketika kita dalam keadaan lapang atau mendapatkan kesenangan semata.
            Banyak umat Rasulullah yang sudah melupakan Beliau, seharusnya kita menyadari dan berterima kasih kepada Rasulullah karena Beliau begitu peduli dengan umatnya. Dan banyak diantara kita yang sudah melupakan Beliau contoh kecilnya saja ketika mendengar nama Rasulullah saw banyak yang lupa untuk bershalawat kepada Beliau dan juga ketika selesai shalat banyak diantara kita yang lupa untuk membacakan surah al-Fatihah dan bershalawat kepada Beliau.
            Seusai ustadz Ainul Yaqin memberikan beberapa penjelasan ustadz Ainul Yaqin meminta kepada kami untuk selalu mendoakan Beliau agar supaya dimudahkan segala urusannya. Dan akupun tertegun ketika mendengar Belaiu berbicara seperti itu, karena kebanyakan orang yang lebih tinggi derajatnya memiliki sifat yang gengsi untuk minta didoakan kepada yang lebih muda darinya. Dalam hal ini saya teringat salah satu ustadz saya sewaktu saya masih mondok di pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone bahwa Beliau menjelaskan tentang sahbat nabi yaitu Umar bin Khattab bahwasanya Umar sangat menyukai anak kecil dan ketika Umar melihat anak  kecil maka Umar selalu meminta doa kepada anak tersebut karena ketika kita meminta doa kepada anak kecil maka doanya tersebut cepat terkabulkan karena  mereka masih sangat polos dan belum mempunyai doa. Itulah salah satu pembahasan ustadz saya ketika saya mondok dulu, dan saya sangat bersyukur saya masih mengingat perkataan ustadz saya.
           



69 komentar:

  1. Egha.... kerennya tulisannya, eh,, maksudnya ketikan nya yg berisi karyamu,... iyaiyaiya, masukan, jangan pakai kata hubung setelah titik.

    BalasHapus
  2. subhanallah.. mulai menulis diaa,, lanjutkan mb ega

    BalasHapus
  3. hallo ega.....
    tulisanmu sudah bagus, bahasnya sudah mulai berkembang dan pengandaiannya sudah muali terlihat. namun ada sedikit kata-kata yang perlu kamu revisi kembali yaitu "kami" sebuah kata yang kamu ulang-ulang lebih dari 5x dalam satu paragraf. sebenernya pengulangan kata dalam paragraf itu harus dihindari karena tidak sesuai dengan tatanan penulisan bahasa indonesia. ok

    SUKSES terus buat Ega dan Tingkatkan KREATIFITASMU. :-)

    BalasHapus
  4. menggunakan bahasa-bahasa majas mungkin lebih mempercantik tulisan :) lanjutkan!

    BalasHapus
  5. bismillah
    tetap semangat ya
    “Menulis merangsang pemikiran, jadi saat kamu tidak bisa memikirkan sesuatu untuk di tulis, tetaplah mencoba untuk menulis”

    BalasHapus
  6. nurfaega.....
    penulisannya terdapat pengulangan kata, tingkat kan lagi sobat,,
    good job sobat..

    BalasHapus
  7. Ega penulisannya bagus tapi ada kata-kata tertentu yang perlu diteliti lagi. Dan juga beberapa tulisan terakhir pada postinganmu ini susah dibaca karena ada warna yang menutupinya

    BalasHapus
  8. sudah bagus, tinggal di kembangkan biar lebih woww lagi

    BalasHapus
  9. Wahwah........tulisan y bagus.....teruslah berkarya.....tulisan jg termasuk karya y bisa menginspirasi orang banyak.....semangat terus.....semoga lebih baik lg....

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. semangat trus belajar menulis........be the best....wkkwkwk

    BalasHapus
  12. semangat trus belajar menulis........be the best....wkkwkwk

    BalasHapus
  13. sudah bagus, tapi yang putih gak bisa dibaca, perbaiki ya...tetap semangat

    BalasHapus
  14. Awesome mantap kali tulisan mu bahhh... awak ku terharu. ini temen ane nihhh.... temen gokill anee.... tulisan sampean dah bagus... tpi EYD .. Ojo lali

    BalasHapus
  15. 1. alhamdulillah setelah ana membaca sekilas tampak bahwa anda nurfaega ternyata memilki bakat dalam menulis hanya saja anda kurang percaya diri
    2. mungkin ada kalimat atau paragraf yang menggunakan subjek itu-itu aja jadi terasa ngambang kalau bisa pakai subjek yang satu agak berbeda dengan yang lain , misalnya beliau diganti bapak yang dikenal sebagai penulis ilmu dakawah atau terapi sholat bahagia
    ok thank u jangn lupa punya saya ok

    BalasHapus
  16. Bagus dek.... ada bbrpa hal yg harus d perhatikan untuk kary selanjutny

    BalasHapus
  17. it's a nice post...
    namun ada beberapa hal yg msh perlu di perhtikan....
    teruslah berkarya,jngn prnah ragu untuk menuliskan ide2 kreatif lainnya.

    BalasHapus
  18. greattt, , , , kembangkan trus potensimu, , jangan ragu untuk menulis, , , sedikit dari saya, untuk kata "kemudia" agak di hemat ya, , , keep spirit, , ;-)

    BalasHapus
  19. Dahsyat....

    cerita yang sangat bagus,...

    BalasHapus
  20. tingkatkan terus teman...fighting

    BalasHapus
  21. cerita yang sangat indah..pantas diteladani ceritanya

    BalasHapus
  22. semoga jdi penulis yang hebat dan bisa dikenang oleh bnagsa dan negara seperti ibu kartini....aminnnn

    BalasHapus
  23. bagus.. tulisannya bagus, cukup menarik juga menginspirasi. tapi masih banyak mungkin yang harus kamu perhatikan. sebaiknya di bagi jadi beberapa sesi biar tidak terlihat membosankan ketika pertama dibuka. hindari keseringan mengulang kata.. good job!!

    BalasHapus
  24. satu lagi,, teruslah menulis!! karena ketika kamu suka membaca maka kamu akan melihat dunia, sebaliknya ketika kamu suka menulis maka dunia akan melihat mu.
    teruskan Egha.!

    BalasHapus
  25. untuk teman2 yang di UIN Sunan Ampel Surabaya yang lagi rajin menulis di blog. yuk cek asmawigunawan.blogspot.com (sekedar promosi heheh) leave comment yak.
    Tuangkan ide dalam tulisan, dan mari saling mendukung antar penulis.

    BalasHapus
  26. ciee ega.. bagus ga, udah mulai mengalir tulisannya, hanya perlu perbaikan dalam perbendaharaan kata,, supaya pembaca tidak bosan untuk membaca setiap alur katanya...
    mungkin juga sedkit dikurangi pengulangan kata "kami" ..
    terus berkarya kawan

    BalasHapus
  27. ketika kamu menulis, semua orang akan tau bagaimana sosok seorang ega sbnrnya.. jadi, tetap menulis dan selalu belajar dalam hal penggunaan kata-kata dan tata tulisan.. sesuaikan dengan bagaimana kamu yang sebenarnya... semangat ^_^

    BalasHapus
  28. BAhh... tawwa nda nyangka ka bisa jiki pale menulis... tulisannya lebih di kembangkan lagi ya saran dari sya yang mgkin bsa di pertimbangkan yaitu hindari penhulangan kata.. ok..

    BalasHapus
  29. De'gaga jagoo...
    Ayo buktikan klo org bugis bisa jd pnulis besar..jgn malas membaca...

    BalasHapus
  30. semangat egha... ndak ada yang sukses tanpa menghadapi masalah terlebih dahulu..

    BalasHapus
  31. keep writing... kita sama-sama belajar...
    tulisanmu...brilian! :)

    BalasHapus
  32. Sudah bagus ega....

    Tinggal diperhatikan dan direvisi kembali..
    Semangat........

    BalasHapus
  33. Jadikan pengalamanmu sbgi guru yg senantiasa membimbingmu untuk menggapai cita-citamu
    Dan ingat ada 2 orng yg semakin menua yg harus kau bahagiakan dan jadikanlah Dia sbgi penyemamgat hidupmu

    BalasHapus
  34. terus kembangkan ide-ide yang ada

    BalasHapus
  35. teruss semangat untuk berkarya yaaa

    BalasHapus
  36. buatlah ide-ide baru yang tidak kalah dengan ide2 mereka yang berada diluar sana..semngttt...

    BalasHapus
  37. Belum sempat baca semua sih Ega, terbatas waktu nih. Insya Allah jika punya kesempatan... Tingkatkan ya Ega...

    BalasHapus
  38. Menarik. Apalagi kalau disajikan dengan bahasa yang lebih nyastra. Semangat!!!

    BalasHapus
  39. Woow..,, kak egaa..
    Tulisannya keren kak,, lanjutkan lagi tulisannya kak,,
    Semangat terus dalam berkarya..

    BalasHapus
  40. diam bukan berarti kita tak melakukan apa-apa, anda telah membuktikan bahwa ke diaman anda mampu menorehkan tinta emas, lanjutkan!!!

    BalasHapus
  41. KerenNN k'..
    K'ega memang kreatif dan penuh ide..
    Smangat k'..
    Smoga dapat menjadi yg terbaik..(Y)

    BalasHapus
  42. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  43. nurfaegah...

    nama yang baru saya dengar...
    tulisanmu seanggun namam.
    tapi kamu tidak boleh luntur. ayo semnagt menulis

    BalasHapus
  44. bagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .

    BalasHapus
  45. nice message, menulislah tanpa beban sekedar tambahan perlu klimaks yang lebih dalam suatu tulisan agar pembaca terpanggil untuk membaca baris demi baris

    BalasHapus
  46. ttap istiqomah menulis ega..... kumenunggu hasil tulisanmu berikutnya!! (y)

    BalasHapus
  47. subhanallah mantappp ga,,,,,tetap semangat,,,,

    BalasHapus
  48. kamu boleh pendiam ketika dihalayak rami,,,tapi jangan sampai diam ketika menulis,,,,,ini buktinya kamu bisa menulis sebanyak ini,,,,good job for you,,,mantaappp

    BalasHapus
  49. Terus berkarya nurfaegah, makkunrai calm nya tana ogi, ditunggu buku terbitannya !!!

    BalasHapus
  50. konsisten aku atau saya ya sist
    ditunggu lanjutannya

    BalasHapus
  51. jangan lupa komen balik yaak
    sitikhoirunnisawulandari.blogspot.com
    kamsahamnida

    BalasHapus
  52. Bagus na tulisan mu......

    BalasHapus
  53. Nice egha.. di tunggu posting an nya

    BalasHapus
  54. Tambah lagi tulisan ta.. Nice

    BalasHapus