Pagi
yang cerah untuk memulai perkuliahan dimana hari itu merupakan hari pertamaku
masuk kuliah semester dua setelah mendapatkan waktu libur selama dua bulan.
Waktu liburku kuhabiskan di Pare Kediri selama satu bulan kemudian satu
bulannya lagi kuhabiskan di rumahku, rumahku ibarat “Home Sweet Home”. Kami belajar bahasa Inggris di Pare kurang lebih
satu bulan lamanya, di sana kami benar-benar memaksimalkan waktu belajar kami
karena kami menyadari bahwa kami tidak ingin menyia-nyiakan uang negara yang
telah dititipkan kepada kami, banyak ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan di
sana. Dan apa yang kami dapatkan di Pare kami amalkan di perkuliahan seperti
doa sebelum dan sesudah belajar.
Hari
pertama memasuki perkuliahan semeter dua tepat pada pukul 07.45 hati terasa dag
dig dug karena jujur saya belum siap untuk memasuki perkuliahan di semester dua
ini, rasa minder saya tiba-tiba kambuh lagi. Saya merasa belum memiliki
persiapan untuk masuk perkuliahan semester dua tapi mau tidak mau saya harus
mengahadapinya. Setelah beberapa hari lamanya tinggal di rumah, ketika masuk ke
kelas seakan-akan semuanya terasa asing baik itu teman-teman saya sendiri
maupun suasana dalam kampus.
Tak
beberapa lama kami duduk-duduk sambil bercerita dengan teman-teman, tiba-tiba
seseorang berjalan menuju kelas kami dengan sosok yang tinggi, tegap, dan
berpakaian yang rapi ternyata Beliau tersebut adalah salah satu dosen besar UIN
Sunan Ampel Surabaya. Beliau salah satu dosen yang mengajar di kelas kami.
Ketika Beliau masuk dengan berjalan tegap gagah dengan membawa beberapa buku
ditangannya, semua mata tertuju pada Beliau sampai-sampai kami terkagum-kagum
kepada Beliau atas kewibawaannya.
Ketika
Beliau memasuki kelas kami maka Beliau langsung duduk di tempat dosen yang
telah disediakan. Kemudian sebelum memulia pembahasan kuliah terlebih dahulu
kami berbincang-bincang, kemudian setelah beberapa jam kami berbincang-bincang
dalam keadaan tegang karena kami tidak tahu kejuatan apalagi yang akan Beliau
berikan kepada kami. Beliau langsung melanjutkan pembicaraannya mengenai sistem
perkuliahan kita kedepannya. Beliau menjelaskan tentang tata cara membuat
makalah dalam bentuk tafsir, semua sistematika Beliau jelaskan, kemudian
setelah itu dilanjut lagi dengan pembagian kelompok. Ada tiga kelompok karena
Prof Ali membaginya sesuai dengan beberpa versi tafsir. Prof Ali mengambil tiga
versi dari tafsir, pada tafsir pertama tafsir versi al-Munir, tafsir kedua
yaitu tafsir versi Ibnu Katsir dan tafsir ketiiga yaitu tafsir versi al-Azhar.
Diantara ketiga pilihn tersebut saya memilih tafsir versi al-Azhar.
Tafsir
al-Azhar dan tafsir versi Ibnu Katsir sudah
pernah saya pelajari sebelumnya di pesantren, sedangakn tafsir versi al-Munir
belum pernah sama sekali. Sebenarnya saya ingin memilih tafsir versi al-Munir
akan tetapi tafsir al-Munir ini menggunakan bahasa Arab sehingga ketika saya
mengetahui bahasanya maka saya langsung down
dan tidak berniat lagi terhadap terhadap tafsir al-Munir. Dan akhirnya saya
memutuskan untuk memilih tafsir versi al-Azhar yang sudah dipelajari sejak di
pesantren dulu. Dalam setiap kelompok beranggotakan 10 orang.
Tafsir
versi al-Azhar merupakan pengarang dari Hamka dimana Beliau menulis buku
tersebut ketika Beliau berada dalam penjara dan bahasa yang digunakannya pun
merupakan bahasa yang jadul dan terkadang sulit untuk dipahami. Hari pertama
masuk kuliah tapi sudah mendapatkan tugas dari Prof Ali. Setelah menjelskan
sistemahtika penulisan makalah, di dalam makalah tersebut terdapat tiga bagian,
pada bagian pertama menulis ayat yang bersangkutan dengan judul, kemudian pada
bagian kedua munasabah dari ayat sebelumnya dan ayat tersebut, dan yang
terakhir adalah kesimpulan dari ayat tersebut yang dikaitkan dengan judul
materinya. Beliau langsung memberikan contoh dari isi makalah tersebut. Beliau
memerintahkan kepada kami untuik membuka al-Qur’an dan menujukkan beberapa ayat
dan menjelaskan munasabah dan kesimpulan. Setelah itu, salah seorang di antara
kami menyebutkan munasabahnya serta kesimpulannya. Akhirnya perkuliahan hari
itu selesai tepat pada jam 11.00 siang, 4 SKS telah berlalu dalam keadaan
tegang.
Setelah
keluar dari kelas maka kami langsung mengatur job untuk mengerjakan tugas tafsir Prof Ali dan kebetulan senin
siang kosong tidak ada jadwal sama sekali, sehingga kai menggunakan siangnya
tersebut untuk pergi ke perpustakaan mencari tafsir versi masing-masing. Kami
mulai mencari tafsir tersebut di ruang
referensi namun tak kami temukan, akhirnya kami bergegas ke koleksi umum bagian
luar daan alhamdulillah tafsirnya ketemu juga. Pada saat itu juga kami mulai
membagi tugas di antaranya ada yang menulis terlebih dahulu menyatukan ayatnya,
dan yang lainnya ada yang mencari langsung ke tafsirnya. Kami mengerjakannya
dengan perasaan senang yang diselingi dengan perasaan tegang karena begitu
banyak tafsiran yang harus kami cari. Dan ternyata tafsir yang disediakan pihak
perpustakaan tidak begitu lengkap entah itu ada yang meminjam ataukah tafsirnya
terselip kebuku-buka lain. Akhirnya kami mencari ke rak buku yang lain dan
ternyata ada sebagian yang terselip. Ayat yang sudah ketemu tafsirnya segera
difotocopy ditakutkan nanti perpustakaannya tertutup dan tidak sempat mengopy
tafsirnya.
Dalam
pengerjaan makalahnya terlebih dahulu ketua kelompok kami membagi job dalam beberapa ayat akan dikerjakan
oleh dua orang langsung begitu seterusnya kemudian dua orang tersebutlah yang
harus bertanggung jawab atas tafsirnya. Dan diberikan waktu oleh ketua kelompok
dalam mengerjakannya dan jika tidak selesai maka akan diberikan sanksi kepada
grup yang tidak menyelesaikannya tepat waktu. Kami mengerjakannya seharian
tanpa memerhatikan waktu istirahat, waktu pengumpulan ketikannya telah tiba dan
masing-masing grup akan mempertanggung jawabkan atas apa yang mereka kerjakan.
Dan ketika semua ketikan terkumpul ternyata tak disadari ketika ketikannya
digambung semua menghasilkan begitu banyak halaman kurang lebih sekitar 176
banyaknya halaman dan itu cukup membutuhkan banyak biaya print. Salah seorang
di antara kami mengeprint makalah tersebut dan akan siap untuk dikumpulkan esok
harinya. Prof Ali memberikan kami kesempatan mengerjakan tugas tersebut kurang
lebih selama dua minggu lamanya dan itu membutuhkan waktu yang sangat ekstra
dan jga membutuhkan tenaga yang kuat untuk begadang tiap malamnya.
Pertemuan
selanjutnya, kami sudah harus mengumpulkan tugas tersebut akan tetapi tugasnya
belum dijilid dan masih dijepit dengan kertas jepit karena Beliau sudah mengira
bahwa kami akan mendapat revisi untuk yang pertama kalinya. Ternyata pada hari
itu makalah kami tidak dikumpulkan akan tetapi langsung revisi untuk yang
pertama kalinya, kami revisi di kelas dan dengan segara kami membagi job lagi setiap dua orang mengoreksi
beberapa halaman dan ketika mengoreksinya kami mendapatkan banyak kesalahan dan
kekurangan. Ketika saya membaca salah satu munasabah ayat, saya melihat
munasabah yang panjngnya sekitar satu halaman, ketika Prof Ali
menghampiriku kemudian saya bertanya
kepada Beliau,
“Ustadz
munasabah sepanjang ini boleh gak?”
“(sambil
melihat dan tersenyum) oowh.... tidak boleh, munasabah tidak boleh sepanjang
itu”
“oowh...
iya pak (sambil tertawa kecil)”
“munasabah
tidk boleh sepanjang itu (sambil tertawa)”
Kemudian
Beliau kembali ke depan untuk menjelaskan munasabah dan ketika Beliau
menjelaskan sebagian temn-teman tertawa.
Waktu
yang seharusnya kami gunakan untuk belajar digunakan untuk merevisi makalah
kami. Dan akhirnya setelah beberapa jam kami merevisi tugas maka Beliau menyuruh kami untuk melanjutkan
revisinya di luar perkuliahan saja.
Setelah
melakukan revisi maka Beliau memberikan sedikit materi tentang munasabah dan
kesimpulan. Masing-masing kelompok berkumpul menjadi satu kemudian memaparkan
hasil munasabah dan kesimpulan yang didapatkan. Ketika pada ayat pertama salah
satu teman kelompok kami mulai membacakan munasabah dan kesimpulannya tapi
ternyata apa yang kami paparkan salah karena kami salah memunasabahkan ayat dan
kami disuruh untuk membuat munasabah dan kesimpulan yang lain, sambil
memikirkan munasabah dan kesimpulan maka Prof Ali mempersilakan kelompok Ibnu
Katsir untuk memaparkan hasil munasabah dan kesimpulannya. Hari itu terus
berjalan dan dipenuhi rasa tegang. Waktu diskusi telah hampir selesai,
menit-menit terakhir Beliau memberikan penjelasan kepada kami tentang munasabah
pada ayat yang dibahas, kemudian diselingi sedikit motivasi-motivasi untuk kami
agar lebih giat lagi dalam belajar.
Tak
beberapa lama tanpa terasa waktu perkuliahan pada hari itu berakhir tepat pada
pukul 11.00 siang. Beliau segera menutupnya dengan doa kafaratul majlis.
Setelah Prof Ali keluardari kelas, kami kelompok al-Azhar mengadakan diskusi
kelompok tiap minggu pada hari ahad, diskusi itu dilakukan agar supaya kami
dapat belajar bersama mengenai munasabah ayat. Setiap minggu kami harus dapat
mendapatkan munasabah dari beberapa ayat. Dan hasil diskusi kami bisa dilihaat
ketika di kelas, di setiap diskusi kami tidak kualahan ketika ditanya tentang
munasabah dan kesimpulan karena sebelumnya kami sudah memersiapkannya.
Pada
minggu selanjutnya, sesuai hasil diskusi salah seorang teman dari kelompok kami
membacakan munasabah dan kesimpulannya secara bergiliran antar kelompok.
Kemudian dilanjut dengan komentar Prof Ali mengenai munasabah kami dan
alhamdulillah munasabah kami tidak ada yang salah dan Beliaupun tidak mau
menyalahkan pendapat seseorang, satu kalimat yang selalu diucapkan oleh Prof
Ali adalah “Gak apa-apa”.
Suatu
hari, sebelum hari senin saya mendengarkan kabar yang sangat menyakitkan. Tepat
pada hari kamis salah seorang saudaraku meninggal, dan itu membuatku tidak
mengikuti perkuliahan selama beberapa hari. Tepat pada hari rabu saya kembali
ke Sulawesi dalam keadaan yang tidak karuan, setelah mendengar kabar tersebut
maka segera ke bandara untuk memesan tiket pulang dan saya sangat bersyukur
karena bisa mendapatkan tiket secepatnya. Tak beberapa lama tinggal di bandara
tiga orang temanku menyusul ke bandara dan itu lebih membuat agak merasa
tenang. Tepat pada pukul 17.30 pesawat take off.
Setelah
beberapa hari tinggal di rumah maka saya meminta izin kepada ibu untuk kembali
ke Surabaya. Saya berangkat dari rumah ke Makasar pada hari ahad dan berangkat
ke Surabaya pada hari senin tepat pada jam 05.00 subuh berangkat dari
Makassar dan alhamdulillah sampai dengan
selamat pada jam 05.00 pagi di Surabaya. Saya sengaja mengambil penerbangan subuh
karena saya tidak ingin melewati satu pertemuan pun dengan Prof Ali. Ketika
saya sampai di Surabaya dengan segera saya langsung mencari taksi menuju ke
kampus, ternyata ketika setengah dalam perjalanan kedaraan pun mulai
berdempetan karena macet dan saya terkena macet sekitar satu jam lamanya,
kemudian saya meminta kepada sopirnya untuk ngebut meskipun ngebut tapi
sopirnya tidak mengantarku sampai dikampus akan tetapi saya sinngah tepat di
depan kampus dan harus menyebrangi jalan karena jika saya meminta untuk
diantarkan tepat dalam kampus maka saya akan telat lama mengikuti perkuliahan
Prof Ali dan akhirnya saya bergegas berjalan kaki kembali ke asrama dan
mengambil buku dan langsung menuju ke fakultas. Alhamdulillah pada hari senin
saya bisa mengikuti perkuliahan walaupun terasa lelah dalam perjalanan.
Saya
memasuki kelas agak terlambat. Setelah saya duduk beberapa menit, pandangan
saya tertuju pada satu orang yang duduk tepat pada samping Prof Ali seakan-akan
orang tersebut terasa asing dan sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Beliau.
Ternyata Beliau adalah asisten Prof Ali lulusan dari universitas al-Azhar
Mesir. Tak lama Beliau berbincang-bincang dengan Prof Ali kemudian Prof Ali
bergegas meninggalkan kelas kami dan diambil alih oleh asisten Prof yang tadi.
Beliau memperkenalkan diri di depan kami dan bercerita sedikit mengenai
kehidupannya yang dahulu. Beliau sangat cakap dan ramah ketika berbicara dengan
kami. Namanya adalah ustadz Ainul Yaqin yang beberapa tahun tinggal di
Mesir. Beliau juga bercerita tentag
kehidupannya di Mesir. Kata Beliau, Beliau selama tinggal di Mesir jarang
mengikuti perkuliahan karena Beliau sibuk berjualan di sana, akhirnya selama
beberapa tahun tinggal di Mesir Beliau hanya berjaulan di sana, namun Beliau
tetap mendapatkan berkah ilmu dan bisa mengetahui banyak hal selama Beliau
tinggal di Mesir.
Beliau
salah seorang Bloger yang aktif di dunia maya, dahulu ketika Beliau tinggal di
Mesir setiap hari Beliau menulis status di facebook
dan banyak tulisan-tulisan Beliau yang menarik untuk di baca seperti Cemburunya Bidadari Surga. Itu
merupakan salah karangan dari Beliau yang membuat kebanyakan perumpuan
menangis. Setelah beberpa jam bercerita maka Beliau masuk kepada materi tafsir
dan menanyakan bagaimana sistematika perkuliahan Prof Ali. Kemudian setelah
mengetahui sistematika maka Beliau melanjutkan materi tafsirnya dan
menjelaskannya. Begitu jelas Beliau menjelskan materi dan juga memiliki wawasan
yang luas. Waktu terus berjalan, tak terasa waktu belajar tafsir telah selesai
sampai kami lupa akan waktu karena cerita Beliau sangat berkesan dan menarik.
Tak
lupa Beliau menginformasikan kepada kami bahwa minggu yang akan datang ujian
tulis pertama kalinya yaitu tafsir dengan versi al-Munir yang akan diambil alih
oleh ustadz Ainul Yaqin sendiri. Ucapan salam telah dan perkuliahan pada hari
itu alhamdulillah selasai dengan lancar, banyak kisah dan pengalaman yang kami
dapat pada hari itu, hati terasa senang dan puas ketika mendapat pengajaran
yang langsung cepat mudah tersimpan difikiran. Seperti biasa setiap hari ahad
kami melakukan diskusi yang membahas tentang munasabah.
Tanpa
terasa hari yang meneganggang telah tiba yaitu hari dimana kami akan
melaksanakan ujian pertama mengenai tafsir, saya duduk tepat pada baris ketiga
agak belakang. Tepat pada jam 07. 45 ustadz Ainul Yaqin telah tiba dan segera
memasuki kelas. Dan mulai mengambil posisi duduk, sebelum memulai ujiannya
terlebih dahulu kami membaca doa agar supaya dipermudah dalam menjawab soal.
Doa sedang berlangsung dan Prof Ali memasuki kelas, setelah berdoa semua mata tertuju
pada Beliau. Seusai doa ustadz Ainul Yaqin mempersiapkan lembar soalnya dan
menyuruh kami untuk mempersiapkan kertas selembar, hati terasa dag dig dug
ketika akan menjawab soal dari Beliau. Akhirnya ketika semuanya telah siap maka
Beliau mulai membacakan soalnya. Sistemnya sama seperti dulu waktu semester
satu. Ketika Beliau mulai membaca soalnya dan terkadang saya agak kualahan
ketika menjawab soal yang berkenaan dengan ayat, kami disuruh melanjutkan ayat
dan disitulah saya sering merasa kualahan.
Ustadz
Ainul Yaqin menyiapkan sebanyak 40 soal dan kebanyakan yang masuk adalah ayat
al-Qur’an. Tapi alhamdulillah kami dapat mejawabnya. Ketika soal terakhir
dibacakan hati masih saja dag dig dug tak sabar mendengar soalnya ternyata soal
yang paling terakhir adalah nama lengkap tafsir al-Munir.Kebanyakan dari kami
tidak mengetahui nama pengarangnya tapi untungnya ustadz Ainul Yaqin memberikan
opsi pertanyaan untuk mempermudah kami dalam menjawab pertanyaan tersebut.
Akhirnya soal terakhir telah usai dan
sesi selanjutnya adalah masing-masing orang menghitung nilai ternyata aku
mendapat nilai yang cukup memuaskan
yaitu nilai 88 meskipun ada keinginan untuk mendapatkan nilai yang lebih dari itu.
Namun saya tak boleh menyesali apa yang kudapat, itu merupakan hasil dari
belajarku dan saya harus menerimanya. Dan seharusnya saya mensyukuri dengan apa
yang saya dapatkan karena itu merupakan kerja saya sendiri.
Setelah
ujian selesai, Prof Ali langsung meminta tugas tafsir yang berupa softfiledan ketika Beliau memeriksa
tugas kami ternyata masih banyajk kesalahan dan kekurangan sehingga untuk yang
kesekian kalinya kami disuruh revisi lagi. Kemudian ketika selesai memeriksa
maka Beliau kembali menjelaskan kata-kata atau tanda baca yang salah, dan tugas
kami kebanyakan salah terhadap kosa katanya. Tugas kami dikembalikan lagi dan
merevisi untuk yang kesekian kalinya. Setelah Beliau selesai memeriksa tugas
kami maka Beliau memberi alih kepada ustadz Ainul Yaqin untuk melanjutkan
materinya dan diselingi dengan bercerita atau memberikan semacam motivasi
ataupun arahan. Tak terasa lamanya ustadz keasyikan bercerita dan kamipun
keasyikan mendengar cerita ustadz Ainul Yaqin ternyata jarum jam sudah
menunjukkan pukul 11.00 lewat dan akhirnya ustadz menghentikan ceritanya seraya
membaca kafaratul majlis dan mengakhirinya dengan salam. Hari itu terasa begitu
lelah setelah melaksanakan ujian kemudian sorenya kami mengikuti kajian tepat
di depan Auditorium.
Setelah
seminggu lamanya, tiba kembalilah hari senin itu yang membuat saya selalu
tegang karena akan mengikuti ujian dan juga bertemu dengan Prof Ali. Pada ujian
yang kedua yaitu ujian tafsir versi al-Azhar dimana tafsir tersebut menurutku
tafsir yang paling aneh dan susah bahasanya untuk dipahami, sehingga terkadang
saya merasa malas untuk mempelajarinya. Ketika malamnya sejujurnya saya kurang
belajar karena tiba-tiba rasa malasku kambuh lagi sampai-sampai pada malamnya
tersebut saya ketiduran, rencananya saya ingin bangun sekitar jam dua untuk
belajar tafsir tapi malah saya ketiduran sampai jam 03.00 subuh akhirnya saya
hanya membaca tafsirnya sekilas saja dan tak lama setelah itu saya ketiduran
lagi disisi lain saya ingin menangis karena saya sudah tidak punya kesempatan
lagi untuk belajar padapagi harinya dan itupun saya kembali membaca-baca
tafsirnya ketika waktu intensif tapi saya tak sedikitpun mendapatkan hasil dari
bacaannya, namun disisi lain saya juga ingin menertawai diri saya sendiri
karena sudah lalai, ceroboh, serta menyia-nyiakan waktu belajar saya.
Soal
ujiannya tetap sama yaitu 40 soal banyaknya dan ternyata hasil yang saya
dapatkan itu sangat mengecewakan yaitu nilai 58, hanya sebagian kecil saja yang
benar, saya sangat menyesalinya. Waktu itu saya ingin menangis tapi saya juga
berfikir buat apa saya menangis semuanya sudah terlambat lagian itu kesalahan
saya sendiri. Nilai saya menurun drastis dari nilai 80an turu ke nilai 58. Hal
itu sangat memalukan bagiku mendapatkan nilai terendah. Ustadz Ainul Yaqin
sempat bertanya,
“Nur
faega kenapa nilainya turun drastis? (sambil tersenyum)”
“(sambil
tersenyum malu yang sangat) Gak tau ustadz” sahutku”
Kemudian
Beliau hanya membalasnya dengan senyuman. Waktu itu saya sangat malu atas apa
yang saya dapatkan.Usai pengumpulan nilai, tiba-tiba Prof Ali menyebut kata
Sulawesi, saya sangat terkejut pada saat itu, kemudian Prof Ali menyuruh kami
untuk mengacungkan tangan perwakilan dari Sulawesi dan menanyakan satu persatu
di antara kami atas hasil yang kami peroleh. Saya sangat merasa malu karena
rata-rata hasil dari Sulawesi adalah sekitar 50an.
Pada saat itu saya ingin menangis karena
perasaan malu yang sangat. Saya merasa minder dengan teman-temanyang lain. Prof
Ali sempat memberikan motivasi untuk kami agar kami bisa mendapatkan nilai yang
lebih baik daripada sebelumnya, pokoknya harapan Beliau minggu yang akan datang
Sulawesi harus mendapatkan hasil yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Kemudian
pada ujian yang keempat, menurutku nilaiku sama saja seperti biasa saya belum
bisa keluar dari nilai angka 60an, nilaiku hanya naik dua point saja. Pada
ujian yang keempat saya mendapatkan nilai yang masih sangat kurang memuaskan.
Pada ujian kali ini adalah ujian tafsir versi Ibnu Katsir yang jauh lebih mudah
dari tafsri versi al-Azhar. Tapi tetap saja saya belum bisa mendapatkan nilai
yang memuaskan, lagi-lagi saya merasa malu apa yang saya dapatkan karena nilai
60an itu sudah terbilang rendah, lagi-lagi pada saat itu saya ingin menangis
karena belum ada peningkatan sama sekali. Saya menyadari ternyata apa ynag
kuusahakan belum bisa tercapai. Ketika semua nilai terkumpul maka Prof Ali
menyebut nama kami satu per satu dan meberikan sekelumit pertanyaan sederhana
dan menyebutkan beberapa prestasi yang pernah diraih dulu dipondok, kami tak tahu
Beliau mendapatkan informasi tersebut dimana yang jelas di setiap ucapan Beliau
tersebut rata-rata benar.
Beliau
sempat menyebut prestasiku yang semenjak saya tinggal di pesantren dulu. Ketika
Beliau menyebut namaku serta prestasiku saya langsung terkejut dalam benakku
bekata “kok Prof Ali bisa tahu tentang prestasiku yang dulu? Padahal saya tak
pernah cerita sama sekali baik itu kepada teman saya sendiri terlebih kepada
Prof Ali” yang cuma tahu tentang prestasi saya hanya ustadzku yang di pondok
dan saya sekalipun tidak pernah bercerita kepada yang lain. Ketika namaku
disebut saya, Beliau sempat mengajakku berbincang-bincang dan ingin mengetahui
apakah ucapan Beliau tadi itu benar atau salah.
“Nur
Faega juara qiratul kutub yah?”
“(sambil
berfikir saya hanya mengangguk menahan rasa malu) iya pak”
Kemudian Beliau
mengajak saya bercanda, kata Beliau.
“Kutub mana Faega? Kutub utara?” sahut
Beliau
“(saya hanya membalasnya dengan anggukan
dan senyuman)”
“Lomba kitab apa Faega? Jangan-jangan
lomba kitab ta’lim”
“Bukan pak, kitab Fathul qarib”
“(sambil mengangguk) oowh.....”
Kemudian Beliau
menanyakan makan khas Sulawesi.
“Faega
disana kamu selalu makan konro (salah satu makanan khas Sulawesi) gak?”
“Enggak
pak” sahutku.
Sebagian
teman-teman ada yang menertawaiku namun saya berfikir, wajar si mereka
menertawaiku karena mungkin mereka tidak percaya atau tidak menyangka kalau
saya pernah juara qiraatul kutub. Saya menadari bahwa kemampuanku dalam bahasa
Arab kini jauh dibawah mereka.
Kemudian
Beliau melanjutkan bertanya kepada teman-teman yang lain.
Ketika
semuanya selesai ditanya oleh Beliau, maka Beliaupun bergegas untuk keluar dari
ruangan karena mungkin ada urrusan yang lain sehingga tidak menemani kami
sampai jam perkuliahan terakhir.
Kemudian
suasana diambil alih oleh ustadz Ainul Yaqin, Beliau kemudian melanjtkan materi
tafsirnya. Dan lagi-lagi sepderti biasa masing-masing kelompok harus memaparkan
munasabah maing-masing, setelah mendengarkan munasabah masing-masing kelompok
kemudian Beliau menjelaskan makna ayat tersebut beserta munasabahnya.
Dimenit-menit terakhir Beliau membuka sesi pertanyaan, kemudian salah seorang
di antara kami bertanya entah itu mengenai tafsir ataupun mengenai kehidupan
sehari-harinya.
Setelah selesai
menjawab Beliau langsung membaca kafaratul majlis kemudian langsung mengucapkan
salam.
Pada
ujian selanjutnya lagi-lagi nilainya mengecewakan, saya mendapatkan nilai 65.
Ternyata pada minggu itu saya belum bisa keluar ke nilai 60an entahlah saya tak
mengetahui faktor apa yang membuatku nilai saya menurun. Yang terpenting saya
sudah berusaha dan mengerjakannya sendiri. Saya tidak akan pernah menyesali apa
yang saya dapatkan tapi saya menyesali apa yang saya perbuat.
Selalu
saja saya dihantui oleh rasa malu, selalu saja rasa malu itu bersemayam dalam
diriku padahal ketka saya bertanya kepad teman-temanku mengenai nilai-nilai
mereka seakan-akan mereka bersikap biasa-biasa saja tanpa memiliki beban sama
sekali. Pernah saya bertanya kepad salah seorang teman saya mengenai nilainya,
“Hey.....
kamu dapat nilai berapa?” tanyaku
“kemudian
dia menjawab, saya mendapatkan nilai 40 sekian”
“kamu
gak merasa terbebani sama sekali atas apa yang kamu dapatkan?”
“tidak
(dengan jawaban yang datar)”
Itulah
sekelumit karakter orang yang berbeda-beda. Orang terkadang merasa terbebani
ketika dia terlalu memikirkan hal-hal yang tidak semestisnya untuk dipikirkan,
jika masalah itu terus-terus dipikrkan maka selamanya kita merasa terbebani
oleh.
Pada
ujian kali ini Prof Ali tidak menemani kami sampai jamnya selesai karena Beliau
ada urusan lain yang harusdiselesaikan terlebih dahulu. Kemudian Beliau pamit
terlebih dahulu dan mempercayakannya kepada ustadz Ainul Yaqin untuk mengambil
alih kelas kami.
Kemudian
pada ujian selanjutnya, lagi-lagi saya belum bisa keluar dari nilai 60an, pada
berikutnya saya mendapatkan nilai 68 hanya nai beberapa point, saya tak
mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya, dan saya pun menyadari
sebenarnya begitu banyak beaban yang saya pikirkan sampai-sampai saya tidak
bisa begitu konsen dalam belajar.
Tepat
pada hari sabtu, dimana pada hari itu adalah hari pertama mengadakan kajian
yang berupa pengajaran bahasa Arab. Pada hari pertama tersebut tepat pada pukul
07.30 kami berkumpul di depan SAC untuk memgikuti kajian, saya agak terlambat
pada waktu itu. Materi pada hari itu adalah ustadz memberikan imla’, Beliau
menyebutkan bahasa Arabnya kemudian kami menulis apa yang disebutkan oleh
ustadz, kami menulis sesuai dengan kemampuan kami.
Pagi
yang begitu cerah untuk memulai perkuliahan hari itu pada tanggal 27 April
2015. Pagi itu kubergegas untuk berangkat ke kelas untuk mengikuti kelas
intensif bahasa Arab. Setelah mengikuti kelas intensif bahasa Arab tepat pada
pukul 07.45 dosen kami datang yaitu ustadz Ainul Yaqin dengan mengenakan kemeja
lengan panjang berwarna merah maron dengan celana berkain hitam, bersepatu
hitam, Beliau berjalan memasuki kelas kami dengan tegak yang dihiasi dengan
senyuman diwajahnya seakan-akan setiap orang yang melihatnya merasa senang dan
ikut tersenyum ketika melihat Beliau, keberadaan Beliau di kelas kami
seakan-akan kelas kami menjadi kelas yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan
karena ilmu dan wawasan yang Beliau miliki sangatlah luas serta bahasa Arabnya
pun begitu fashih. Hari itu seperti hari yang yang kemaren dimana kami memasuki
kelas dengan perasaan tegang yang di selingi juga dengan perasaan bahagia,
disisi itu kami merasa tegang karena kami akan melaksanakan ujian yang kesikian
kalinya tapi disisi lain kami juga sangat bahagia karena akan berjumpa dengan
dosen besar UIN SUNAN AMPEL Surabaya. Banyak pelajaran yang dapat petik
hikmahnya ketika Beliau sedang berbicara. Setelah berada di kelas, awalnya
dalam keadaan ramai tapi ketika Beliau masuk teman-teman yang awalnya ribut dan
tak tahu mereka lagi memabahas apa langsung menjadi sunyi karena penghormatan
kami terhadap Beliau, seperti hari-hari kemaren ustadz Ainul Yaqin ketika dalam
kelas Beliau meletakkan tasnya dimeja kemudian duduk dan menyuruh kami untuk
membaca doa, Belaiu sangat menghayati dan meresapi ketika membaca doa.setelah
selasai membaca doa Beliau berbicara sedikit sebagai pengantar awal perkuliahan
pada pagi itu, kami dengan segenap hati dan penuh kesungguhan mendengarkan
cerita Beliau, Beliau bercerita seakan-akan mengambil perhatian kami untuk
mendengarkannya karena ketika Beliau becerita Beliau benar-benar dipenuh
reaksi, mimik wajahnya serta retorika Beliau ketika berbicara sungguh menarik
perhatian. Beliau juga memberitahukan kepada kami bahwa Beliau tidak membeli
minuman karena uangnya telah dibelanjakan paketan, ini semua karena kebutuhan
Beliau. Setelah Beliau bercerita, hal yang paling menegangkan ketika hari senin
adalah hari dimana kami ujian tulisan.
Ujian tulisan berlangsung dan ustadz mulai
membacakan soalnya sekitar 20 soal. Soalnya lebih sedikit dari ujian sebelumnya
karena pemabahasan kali ini lebih sedikit dari sebelumnya yaitu tafsir versi
al-Azhar, di dalam pembahasan tersebut hanya ada tiga ayat yaitu surah al-Isra’
[17]: 70 yang membahas menjaga kehormatan setiap individu.
Ketika
Beliau memberikan soal ujian yang berkenaan dengan materi ini seperti biasa
perasaanku begitu saja gugup karena kami tidak tahu kejutan apalagi yang di
berikan ustadz untuk kami, ternyata soalnya begitu mudah tapi jawabannya begitu
sulit untuk dikerjakan, soalnya begitu mengeco terkadang ustadz mengubah nama
dari seseorang ataupun mengubah sedikit demi sedikit kata-katanya sehingga kami
lebih bisa berkonsentrasi dan lebih teliti lagi dalam menjawab soal yang
diberikan oleh Beliau, jantung tak henti-hentinya terus berdegub kencang ketika
pertanyaan yang satu sudah selesai dan akan dilanjut lagi dengan pertanyaan
yang selanjutnya, ketika pertanyaan Beliau kurang jelas maka Beliau dengan
sabarnya mengulang kembali pertanyaan tersebut sampai semuanya faham kemudian
jika diantara kami tak ada seorang pun yang mengetahui jawaban maka pertanyaan
tersebut diganti dengan pertanyaan yang lain agar supaya lebih memudahkan lagi
menjawab soal.
Di
tengah berlangsungnya ujian kami tiba-tiba Prof Ali berjalan dari luar kemudian
Beliau memasuki kelas kami, semua mata tertuju pada Beliu. Beliau memasuki
kelas kami seperti biasa berjalan dengan tegak dan begitu gagahnya memegang
beberapa buku ditangan kirinya. Pada saat itu Beliau mengenakan kemeja putih
yang bercorak garis-garis panjang hitam dan juga mengenakan celana panjang
berwarna hitam serta mengenakan sepatu hitam, begitu rapinya pakaian Beliau dan
seharusnya para mahasiswa mencontoh kerapian pakaian Beliau. Ketika Beliau
berada di dalam kelas kemudian Beliau bergegas duduk di sebelah ustadz Ainul
Yaqin dan menyaksikan kami melaksanakan ujian, kemudian disela ujian kami
terkadang sekali-kali Beliau bercanda atau memberikan kata-kata motivasi kepada
kami.
Seusai
melaksanakan ujian tulisan maka ustadz Ainul Yaqin memerintahkan kepada kami
untuk saling menukarkan lembar jawaban kami kepada teman yang duduk diseblah
kami masing-masing, namun Prof Ali mengatakan “Khusus untuk hari ini semuanya
periksa lembar jawaban masing-masing” dan menurutku ini merupakan sutu tantangan
kepada setiap mahasiswa karena untuk menilai seberapa besarkah sifat jujur yang
kita miliki dan itu tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Aku percaya
setiap kejujuran pasti akan mendapatkan suatu hal yang tidak diduga-duga
nantinya. Kemudian saya juga selalu mengingat kata-kata Prof Ali yang intinya
janganlah kamu menyesali atas apa yang kamu dapatkan. Dan disisi lain saya
teringat akan kata-kata dari sahabat saya dulu semasa di pesantren dulu bahwa
“tidak selamanya mendapatkan apa yang kita inginkan, Allah selalu mendengarkan
doa hamba-Nya namun terkadang Allah tidak secara langsung mengabulkan doa
hamba-Nya akan tetapi Allah menggantikan apa yang hamba-Nya. Kemudian
masing-masing mahasiswa memeriksa lembar jawabannya, dan ketika ustadz Ainul
Yaqin menyebutkan jawabannya hati, perasaan seakan-akan remuk karena disetiap
jawaban kami yang benar mendapatk lima point. Peyocokan jawaban telah usai dan
akhirnya masuk kepada tahap terakhir yaitu masing-masing orang harus
menyebutkan nilai atau hasil yang mereka dapatkan, apapun hasilnya rendah atau
sempurna itu semua karena hasil usaha kita yang telah dilakukan sebelum ujian.
Setelah penghitungan nilai selesai
msing-masing kami harus menyebutkan nilainya dan disaat teman-teman saya sibuk
menghitung nilai saya tanpa sadar melamun entah apan yang saya pikirkan,
mungkin pada saat itu saya merasa rindu yang sangat terhadap ibu sehingga dalam
proses ujian saya kurang berkonsentrasi sampai-sampai ketika saya ditanya
mengenai nilai yang saya dapatkan saya menjawab yang asal-asalan, hari itu
benar-benar hari disaat aku merasa pling plang. Waktu itu saya sangat merasakan
pusing yang sangat sakit sehingga setiap apa yang saya kerjakan pada hari itu
terkadang merasa malas. Pada saat itu saya menyebutkan nilai 78 dan sebagian
teman-teman menertawai dan saya merasa santai-santai saja ketika saat itu
karena saya belum mengerti apa yang mereka tertawai dan semua mata tertuju
kepadaku,dan ustadz pun kaget pada saat itu dan mengatakan:
“Gak
ada nilai 78 yang ada hanya nilai 75” kata ustadz Ainul Yaqin
Kemudian
salah seorang dari teman yang duduk di sebelah saya mengiingatkan kembali,
“Hey.....
Ga, nilai 78 itu gak ada yang ada hanya nilai 75” kata dinda
Dengan
perasaan malu yang sangat saya menyadari dan memikirkan lagi nilai yang saya
dapatkan dan ketika sudah mengetahui nilai yang saya dapatkan sebenarnya maka
saya langsng mengulangi menyebutkan nilai saya sebetulnya. Dengan persaan malu
yang sangat, saya langsung mengulangi menyebutkan nilai yan saya dapatkan yaitu
nilai 75. Dengan cepatnya hal itu berlalu begitu saja.
Tak
lama kemudian, setelah pengumpulan nilai telah selesai, teman saya mengingatkan
lagi mengenai masalah nilai yang kudapatkan, dia bertanya:
“Ga.....
sebenarnya kamu salah berapa sih?” kata Dinda
“Pumyaku
salah 4 din” kataku
“sebenarnya
nilai yang kamu dapatkan adalah 80 ga karena salah 4” kata Dinda
“ya
udah..... tolong kamu bilangin nanti kepasda ustdznya tentang nilaiku” kataku.
Tiba-tiba perasaan malu itu kambuh
lagi yang kedua kalinya karena sebagian dari teman-temanku menertawaiku,
kemudian dengan segera ustadz Ainul Yaqin mengubah nilai saya didaftar
nilainya, saya merasa sudah membuat ustadz Ainul Yaqin repot tapi dengan
sabarnya ustadz itu terus tersenyum seakan-akan ustadz tak memiliki beban sama sekali
untuk mengubahnya dan kami melihatnya begitu senang seakan-akan Beliau tidak
mau memberikan beban kepada kami.
Usai pelaksanaan ujian pada tanggal
27 April 2015, maka dengan segera ustadz Ainul Yaqin mempersilakan kepada Prof
Ali untuk berbicara. Kemudian Pro Ali memberikan beberapa motivasi menulis
kepada kami,, sebelum memberikan motivasi menulis kepada kami maka Prof Ali
bertanya kepada beberapa orang sudah sampai mana kami menulis dan sudah sampai
berapa halaman kami menulis, kemudian Beliau juga betanya kendala kami saat
menulis. Beberpa orang mengungkapkan kendalanya keitika menulis, Beliau
mengatakan:
“Anak SD bisa menulis karena tidak
mempunyai beban” kata Prof Ali
Beliau berpendapat bahwa anak SD itu
bisa menulis begitu banyak karena mereka tidak memiliki beban sama sekali yaitu
beban dalam menulis, mereka hanya menulis seadanya tanpa memikirkan apa yang
mereka tulis, mereka menulis sesuai apa yang ada terlintas di benak fikiran
mereka tanpa memikirkan benar salahnya apa yang mereka tulis, mereka menulis
tanpa memikirkan titik koma yang terdapat dalam stiap paragraf. Oleh karena itu
Prof Ali menyimpulkan bahwa ketika kita ingin menulis maka menulislah seadanya,
jangan pernah sekali-kali menganggap bahwa menulis itu adalah beban. Tulis saja
apa yang ada di dalam benak atau pikiran, jangan pernah pikirkan benar salah
apa yang kita tulis. Kemudian Prof Ali juga sempat berkata bahwa “jadi
beruntuglah menjadi orang tuli.”
Kemudian salah diantara kami
bertanya, “Bagaimana jika kita malas untuk mennulis?”
“Sebenarnya
masing-masing kalian memiliki potensi akan tetapi untuk memnculkan potensi
kalian maka kalian harus dipaksa terlebih dahulu. Maka beruntunglah kalian
bertemu dengan orang yang suka memaksa.” Kata Prof Ali.
Kemudian
dilanjut lagi dengan kata-kata Beliau bahwa “jika kalian disuruh mengerjakan
tulisan sebanyak 50 lembr sebelum mengikuti ujian maka saya yakin kalian pasti
bisa melakukannya, itu semua karena paksaan.” Kata prof Ali
Dari
perkataan Prof Ali tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk
memunculkan potensi yang ada dalam diri kami maka harus dipaksa terlebih
dahulu. Prof Ali sangat berusaha dan menginginkan kelak kami akan menjadi
seorang penulis besar dimasa yang akan
datang dan itu merupakan harapan terbesar Beliau untuk kami. Jadi, mulai dari
sekarang Prof Ali sangat menggenjot kami untuk menulis sampai berpuluh-puluh
halaman dan hasilnya akan kami dapatkan d kemudian hari jik kami sudah keluar
dari kampus UIN SUNAN AMPEL Surabaya. Betapa pedulinya Beliau terhadap anak
PBSB, dan Beliau sangat mengistimewakan anak PBSB seperti kami. Prof Ali tak
henti-hentinya memberikan semangat kepada kami untuk tetap menulis dan terus
menulis. Salah perkataan Beliau yang menarik yaitu “lebih baik tanganmu patah
tapi saya masukkan ke surga daripada tanganmu tidak patah tapi masuk neraka.”
Perkataan inilah yang menambah motivasiku untuk tetap menulis meskipun apa yang
kutulis termasuk tulisan yang tidak jelas. Terkadang saya menertawai diriku
sendiri karena tulisan saya yang begitu rancu serta pembendeharaan katanya
sangat miskin sehingga setiap kata-kata yang kutulis sangatlah membosankan dan
aku menyadari hal itu akan tetapi saya memiliki semangat yang sangat besar
untuk menulis,, itu senua karena motivasi Prof Ali yang selama ini terus
mendorong kami untuk terus menulis.
Selang
beberapa waktu Beliau memberikan motivasi kepada kami, Beliau memperlihatkan
beberapa buku, salah satu buku yang menarik perhatian saya adalahEfek
Terima Kasih. Buku ini membahas tentang seseorang yang yang selalu
berterima kasih kepada siapa saja yang pernah memberikan kebahagiaan untuknya
baik itu berupa pelajaran, pengalaman maupun kebaikan-kebaikan yang lain.
Kemudian setelah Beliau memperlihatkan beberapa bukunya, Beliau langsung
menanyakan kepada beberapa diantara kami mengenai tulisan kami, seberapa
banyakkah tulisan yang telah kami tulis. Saya sempat ditanya oleh Beliau bahwa
berapa banyakkah tulisan yang telah saya tulis, kurang lebih redaksi
percakapanya seperti ini:
“Mbak
sudah tulis berapa halaman?” kata Beliau
“Kurang
lebih sembilan halaman pak” kataku
“Kalau
setiap hati anda menulis sembilan halaman, maka tulisan anda akan cepat selesai”
kata Beliau
“Iya
pak (sambil mengangguk-angguk)” kataku
Setelah
menanyakan kepada beberapa diantara kami, maka Beliau kembali duduk disamping
ustadz Ainul Yaqin sembari meminta tugas tafsir masing-masing setiap kelompok
dengan mengatakan “Semoga tugas kali ini sudah tidak ada yang salah”. Kamipun
tersenyum mendengar perkataan Beliau karena kami sudah revesi berkali-kali
kurang lebih sudah 5 kali. Setelah semua tugas selesai terkumpul maka Beliaupun
bersiap-siap untuk keluar ruangan dan memberikan lagi kesempatan untuk
berbicara kepada ustadz Ainul Yaqin. Kemudian ustadz Ainul Yaqin mengambil alih
pembicaraan dikelas dan meminta silabus tafsirnyakemudian menentukan ujian kami
pada minggu yang akan datang dan Beliau juga menginformasikan kepada kami bahwa
akhir mei adalah dimana kami ujian tafsir lisan, pada ujian inilah kami diuji
seberapa besarkah keseriusan kami selama belajar bersama Prof Ali dan ustadz
Ainul Yaqin. Pada ujian itu kami harus mengafal beberapa ayat, tahsinul Qur’an
serta mungkin beberapa pertanyaan tentang pelajaran tafsir.
Tak
lama kemudian Beliau menyuruh kami untuk menyatu dengan kelompok masing-masing
seperti biasa kelompok tafsir versi al-Munir berada pada pojok pas depan meja
dosen, kemudian tafsir versi al-Azhar juga berada pada pojok berhadapan dengan
tafsir versi al-Munir akan tetapi tafsir al-Azhar pojok dekat pintu, sedangkan
tafsir versi Ibnu Katsir berada tepat ditengah pojok belakang. Satu per satu
kelompok membacakan ayat jika masih banyak waktu, kemudian munasabah, dan yang
terakhir kesimpulannya. Kami membaca secara bergiliran. Kemudian setelah
membaca masing-masing versi maka Beliau menjelaskan munasabah dari ayat yang
telah kami baca tadi. Sedikit kutipan dari penjelasan Beliau yaitu Beliau
memberikan pertanyaan kepada kami bahwa “Nikmat apa yang paling agung, yang paling
besar?”, kemudian Beliau memberikan kesempatan kepada kami untuk memikirkan
jawabannya namun tak ada satu pun yang mengetahui nikmat itu, maka Beliau
langsung menjawab “Nikmat yang paling agung adalah bukan nikmat sehat wal’afiyat akan tetapi nikmat yang
paling agung yaitu nikmat Iman dan Islam serta nikmat menjadi umat Rasulullah
saw...... Subahanalloh, Alhamdulillah.
Pembahasan
telah selesai pada hari itu, seperti biasa ketika akan mengakhiri pelajaran
pada hari itu Beliau bercerita terlebih dulu sebelum keluar, Beliau selalu
memberikan motivasi atau beberapa arahan mengenai kehidupan kedepannya. Kami
sangat bersyukur memiliki dosen seperti Beliau yang dengan sabarnya memberikan
nasehat serta arahan, dan kami pun bangga dengan Beliau karena ilmu yang Beliau
miliki begitu luar biasa meskipun lulusan S1 al-Azhar tapi Beliau mampu
mengalahkan ilmu dari dosen-dosen dari Indonesia lulusan S2..... Subahanalloh.
Perasaan kagum ini terus-terusan ada seakan-akan kami merasa ingin menjadi
lebih dari Beliau. Salah satu yang sangat berperan dalam menuntut ilmu adalah
ketika kita bisa mendapat berkah dari para guru yang mengajari kita karena
tanpa berkah ilmu yang kita miliki akan hanya menjadi sebatas nama belaka dan
tidak akan berbekas umtuk kedepannya. Namun, terkadang saya merasa sedih ketika
mengingat masalah berkah, saya bertanya-tanya kepada diriku sendiri “Apakah
saya sudah mendapatkan berkah?”. Hal itu terus menjadi objek pikiranku selama
ini. Seusai memberikan motivasi kepada kami Beliau mengakhiri perkuliahan pada
hari itu dengan membaca kafaratul majlis.
Pada
tanggal 2 Mei 2015 tepat pada hari sabtu pada jam 07.30 pagi ustadz Ainul Yaqin
mengadakan kajian belajar bhs. Arab dan sejarah Rasulullah saw. Hari itu
merupakan hari yang tidak cerah dimana hari itu hujan mengguyur kota Surabaya
sehingga pada saat itu kami bingung apakah kajiannya akan tetap dilaksanakan
ataukah tidak, kami mengira ustadz Ainul Yaqin tidak akan datang menghadiri
kajian tersebut ternyata Subahanalloh ustadz Ainul Yaqin tetap datang, dengan
kesungguhan Beliau dalam hal mengajar Beliau rela kehujanan demi untuk bisa
memberikan pengajaran kepada kami. Pada hari itu Beliau mengenakan batik
berwarna keabu-abuan dengan celana panjang yang berwarna agak orange
kebata-bataan. Beliau duduk tepat didepanku dengan jarak yang cukup jauh dan
dihadapannya terdapat beberapa lembar kertas putih yang berukuran A4
bertuliskan bahasa Arab, ternayata kertas tersebut adalah kertas tugas kita
minggu lalu, kemudian ditangannya juga terdapatflashdisk. Flashdisk tersebut diberikan kepada salah seorang teman
yang duduk disamping Beliau dan menyuruh untuk mengopy salah satu file yang ada
di dalamnya. Sambil Flashdisk itu bergulir kepada teman-teman yang lain maka Beliau
juga membagikan kertas tugas kami pada minggu lalu kemudian sambil membagikan
kertas tersebut Beliau juga menanyakan sekilas materi nahw saraf kepada kami.
Adapun nama yang paling pertama dipanggilnya adalah namaku saya sangat terkejut
ketika mendengar nama saya yang dipanggil, kemudian Beliau bertanya kepadaku
tentang nahw saraf. Awalnya saya kurang paham atau kurang mendengarkan
entahlah, dengan pertanyaan yang diberikan kepada saya akan tetapi ketia Beliau
menyebut kata Maf’ul bih maka saya
langsung mengerti dengan pertanyaan Beliau, kemudian Beliau menyuruh saya untuk
memberikan salah satu contoh dari Maf’ul
bih dan alhamdulillah saya bisa menjawabnya.
Setelah
pembagian kertasnya telah selesai dan teman-teman sudah mengopy file yang
diberikan ustadz maka langsung saja ustadz memulai pembahasan pada hari itu dan
menyuuh kami untuk membuka file yang tadi sudah di copy dan memberikan waktu
kepada kami untuk membacanya dan mengerti teksnya. Beberapa menit yang telah
diberikan kepada kami maka Beliau menyuruh kami untuk mencerikan kembali dengan
menggunakan bahasa Arab namun ketika giliran saya, saya tidak bisa berbicara
sedikitpun, saya bingung untuk memulai berbicara akhirnya waktu yang diberikan
untuk saya habis tidak ada kesempatan saya lagi untuk berbicara kemudian
kesempatan itu pindah ke teman yang duduk disampingku.
Adapun
materi pada hari itu adalah kisah Aisyah yang ikut berperang bersama nabi yang
berjudul Aku, Istri Nabi yang Tertuduh, sekilas kutipan materinya, “Seperti biasa, sudah menjadi kelumrahan
bilamana Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi nama istri-istrinya
terlebih dahulu. Nama siapakah yang keluar, dialah yang berhak mendampingi
Rasulullah. Perang melawan Bani Mustaliq sudah ditetapkan dan Rasulullah
sendiri yang akan pergi memimpin peperangan. Malam itu diundilah nama para
istri beliau, kiranya siapa yang akan menemani beliau selama peperangan Bani
Mustaliq.
Aisyah binti Abi
Bakar, itulah nama yang disebut Rasulullah. Sontak wajahku merona gembira
mendengar namaku disebut. Sungguh aku tak percaya. Rasa gembira yang membara
bercampur lebur dengan keraguan, apakah benar namaku yang keluar dan berhak
menemani Rasulullah berjuang membela agama Allah kali ini? Sungguh sebuah
kehormatan bagiku bisa menyertai dan melayani beliau berjihad di jalan Allah.
Peperangan dengan Bani Musthaliq terjadi selepas ayat Hijab turun. Otomatis,
aku berhijab seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. Aku pun dinaikkan
di atas unta yang memanggul haudah.
Setelah
peperangan rampung dan begitu mudah kemenangan diraih oleh kaum muslimin,
Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Madinah. Kami pun berombongan kembali
menuju tanah air kami yang penuh dengan cahaya kenabian. Tatkala semerbak aroma
Madinah tercium, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti di suatu
tempat sejenak, agar kami bisa melepas lelah malam itu. Ya, inilah salah satu
dari kebijaksanaan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya. Beliau sangat
memahami betul kondisi dan keadaan kami yang memang amat sangat letih kala itu.
Rasulullah tidak memaksakan kehendaknya untuk memasuki kota Madinah malam itu
juga, beliau memilih berhenti dan mengistirahatkan semua pasukan Islam yang
telah memperoleh kemenangan.
Saat semua
sahabat beristirahat dan sebagian yang lain terlelap, aku putuskan keluar dari
tenda kecilku menunaikan sedikit keperluanku hingga tak kukira langkahku
semakin menjauh dari rombongan. Gegap gempitanya malam membuatku tak sadar,
posisiku sangatlah berjarak dengan unta yang kunaiki. Selepas merampungkan
keperluanku dan hendak kembali ke rombongan, tiba-tiba aku terkesiap bukan
main. Kuraba leherku, kalung pemberian Rasulullah dari kota Zifar - Yaman raib.
Kuputuskan mencarinya. Dalam malam yang begitu hitam, amat susah menemukan
sebuah kalung. Tapi itu kalung pemberian Rasulullah. Tak boleh kubiarkan begitu
saja. Aku harus mencarinya dan menemukannya.
Mondar-mandir,
kulalui berkali-kali jalan yang kutapaki tadi, tak jua kutemukan kalung itu. Ya
Allah, istri macam apa aku ini yang menyia-nyiakan perhiasan pemberian suami.
Apalagi itu kalung yang istimewa dan impor dari Yaman. Kuulangi lagi
pencarianku hingga aku pun putus asa dan kembali ke rombongan dengan rasa
cemas, malu, takut, sungkan bila bertemu dengan suamiku, Rasulullah.
Astaghfirullah, Rasulullah dan rombongan tak terlihat lagi. Mereka
meninggalkanku. Bagaimana ini? Apa yang akan kulakukan? Menyusul mereka
sendirian berlari? Tak mungkin. Aku buta arah jalan ke Madinah. Teriak? Siapa
yang akan mendengar. Air mataku meleleh membanjiri pipiku. Ingin menyesali
kejadian ini, tapi untuk apa? Bukankah ini sudah takdir Allah?
Dalam
kegalauanku, secercah cahaya berkilau di tanah pijakan untaku saat istirahat
tadi, kulihat sebuah logam berbentuk kalung. Kudekati. Dan Alhamdulillah kalungku ketemu. Rasa
cemasku lantaran ditinggal Rasulullah bertabrakan dan melebur menjadi satu
dengan kegembiraan ditemukannya kalung pemberian Rasulullah. Oh ya, orang-orang
yang menuntun untaku mungkin mengira aku sudah berada dalam haudah itu. Aku wanita muda bertubuh
ringan, lantaran itulah, mereka begitu saja menuntun unta yang aku tunggangi
mendahului rombongan terdepan. Mereka tak sadar bahwa unta yang mereka giring
hanya sebuah haudah kosong tak
berhuni. Aku juga salah, mengapa aku tidak memberitahu mereka kalau aku keluar
sedikit lama untuk sebuah keperluan pribadiku? Memang, para wanita kala itu
umumnya berbadan lunak dan tak berlemak. Jadi ada atau tidak ada orang di dalam
haudah sepertinya sama saja.
Dengan penuh
harap, semoga mereka sadar dan merasa kehilangan aku, kuputuskan duduk di
tempatku semula sewaktu beristirahat bersama rombongan. Entah mengapa, mendadak
rasa kantuk begitu akrab dan cepat menyapaku.
Aku pun pulas tertidur. Dalam kenyenyakanku, Shafwan bin Al-Muathal
As-Sulamy menyeruak, ia memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Bila
ada barang rombongan yang tertinggal, dialah yang menyelamatkan barang itu
hingga sampai ke Madinah. Shafwan menghampiriku. Ia memang mengenaliku dan
pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Saat ia tahu akulah yang bersimpuh
dalam sengatan kantuk itu, ia pun berucap inna lillah wa inna ilaih rajiun, aku terkejut dengan ‘kalimat
musibah’ yang ia lengkingkan. Seketika kututup wajahku dengan hijab. Demi
Allah, tak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya kecuali kalimat istirja’ itu. Mulutku juga tak
mengeluarkan kalimat apapun barang sekata. Ia rundukkan hewan tunggagannya
hingga aku bisa menaiki hewan tunggangan itu.
Kami teruskan
perjalanan menyusul rombongan, Shafwan berjalan menuntun tunggangannya hingga
sampailah kami di sungai Az-Zahirah, tempat singgah rombongan di tengah
panasnya siang. Dan celakalah, sebagian orang menebarkan fitnah kebohongan
dengan menuduhku ini dan itu. Masih terekam dalam ingatanku yang paling getol
menyebarkan berita palsu itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Selain
Abdullah bin Ubay bin Salul, Hassan bin Tsabit juga terlalu gegabah menelan dan
menyiarkan berita nista itu. Misthah bin Utsasah, Hamnah binti Jahs dan
orang-orang lain yang tak kutahu namanya satu persatu yang jumlahnya sekitar 10
sampai 40, ikut pula menjadi biang gosip.
Sesampai di Madinah, aku sakit dan merasa tak enak badan selama satu
bulan. Sungguh, aku tak tahu-menahu fitnah kebohongan dan berita palsu itu
telah memenuhi telinga masyarakat Madinah selama sebulan. Kecurigaanku pun
muncul tatkala kelembutan Rasulullah mulai menipis dan tak seperti biasanya di
saat aku melawan demam dan sakitku. Biasanya Rasulullah begitu memanjakanku
kala aku sakit. Namun beliau sedikit berubah. Beliau hanya menyapaku dengan
bertanya tentang keadaanku, kemudian berlalu begitu saja.
Suatu malam, aku
keluar ditemani Ibunda Misthah bin Utsasah untuk membuang hajat. Sewaktu hendak
kembali ke rumah, Ibu Misthah tersandung sembari mencela anaknya sendiri,
Misthah.
“Sungguh buruk
kata-katamu. Apakah kau mencela seseorang yang pernah berjuang di peperangan
Badar?” kataku padanya.
“Nak, tidakkah
kau mendengar apa yang ia katakan?” ia malah bertanya kepadaku.
“Apa yang telah
ia katakan?”
Ibu Misthah
menceritakan tuduhan keji tentangku yang didengungkan oleh sebagian orang.
Sakitku makin menjadi-jadi. Dan sesampainya di rumah, aku meminta izin
Rasulullah agar menetap sementara di rumah orang tuaku, guna memastikan ke
kedua orang tuaku tentang tuduhan keji itu. Rasulullah mempersilahkan.
Lalu aku
bertanya kepada ibuku, “Ibu, apa yang menjadi gunjingan orang-orang?”
Ibuku
menenangkanku agar tidak risau dan gelisah. Mendadak mataku mendung, menderaskan
air mata dan membasahi pipiku sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Rasulullah yang
cukup gusar akan suara-suara negatif tentang istri dan rumah tangganya, meminta
pendapat kepada Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid berpendapat,
“Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda,
yaitu kebaikan.”
“Wahai
Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih dalam perkara ini.
Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat
dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,” begitulah jawaban Ali.
Rasulullah
bertanya kepada Barirah tentangku, apakah ada sesuatu yang meragukan dari
diriku? Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan menegaskan bahwa tak ada
sesuatu yang meragukan pada diriku. Aku hanyalah seorang wanita yang masih muda
yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu. Demikian
Barirah menceritakan tentang diriku di hadapan Rasulullah.
Sepanjang hari
itu air mataku berlinang dan tidurku sangat jauh dari rasa tenang. Hingga kedua
orang tuaku berada di sisiku, aku tetap saja menangis. Dua malam satu hari, air
mataku bercucuran dan tidurku tak karuan. Salah seorang perempuan Anshar
meminta izin untuk menemaniku. Ia pun turut meratapi kesedihanku.
Rasulullah
datang ke rumah orang tuaku. Beliau belum pernah duduk di sampingku selama
tuduhan keji itu tersiar.
Rasulullah
bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar berita tentang dirimu. Jika kau
tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu (dengan membelamu). Dan jika kau
melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang
hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima
taubatnya.”
Setelah
Rasulullah selesai menyampaikan kalimat itu, kuhapus air mataku hingga tak
tampak setetes pun. Aku meminta ayah dan ibuku agar membelaku di hadapan
Rasulullah. Tapi keduanya tak kuasa berkata-kata.
Dengan
sesenggukan aku berkata kepada mereka, “Aku hanyalah wanita yang masih belia,
dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran. Demi Allah, sungguh aku telah
mengetahui apa yang kalian dengar dari perbincangan orang-orang hingga kalian
masukkan berita itu ke dalam hati kalian dan kalian percayai. Seandainya saja
aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan keji itu, kalian tak akan
mengaminiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu –meskipun Allah tahu bahwa
aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan mempercayaiku. Demi Allah
aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian selain seperti Nabi Ya’kub,
saat berkata: Bersabarlah dengan
kesabaran yang baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu
ceritakan.”
Usai kuutarakan
kegundahanku, tempat tidurkulah menjadi penenangku. Sungguh Allah mengetahui
aku benar-benar bersih dari berita miring itu dan Allah yang akan membebaskanku.
Jujur aku tak mengira Allah menurunkan wahyu membebaskanku dari tuduhan itu.
Rasanya tak pantas bila wahyu turun lalu dibaca semua orang hanya menyoal
tentang masalah pribadiku. Aku ini siapa hingga Allah membicarakan masalahku.
Aku hanya mengharap Rasulullah mendapatkan wahyu melewati mimpi tentang
pembebasanku dari fitnah itu.
Dan demi Allah,
Rasulullah enggan beranjak dari tempat itu dan tak satu pun dari keluarga kami
–ayah ibuku yang merupakan mertua Rasulullah- berminat melangkahkan kaki,
hingga wahyu turun kepada Rasulullah. Seketika keringat beliau bercucuran bak
butiran mutiara, padahal kala itu musim dingin amat menusuk tulang kami. Wajah
beliau berseri dan tersenyum.
“Wahai
Aisyah, sungguh Allah telah membersihkan
dan membebaskanmu dari tuduhan itu.” Itulah kalimat pertama yang kudengar dari
suamiku.
Spontan, ibuku
menyuruhku bangkit dan menemui Rasulullah.
“Demi Allah, aku
tak akan bangkit kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun selain
Allah.” jawabku.
Ya, akulah istri
Rasulullah yang tertuduh. Dan Allah membebaskanku dari tuduhan itu dengan
firman-Nya yang membuat air mataku teduh. Aku Aisyah, istri Rasulullah yang
terfitnah.
Dengan menyebut nama
Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
“Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah
baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang
dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar
dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di
waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak
bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:
"Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka
(yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?
Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi
Allah orang-orang yang dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab
yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah)
di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan
dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya
suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan
mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali
tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami),
ini adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan)
kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang
beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar
(berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang
beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah
mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena
kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan
Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) [QS: An-Nur]”.
Itulah
kutipan dari kajian kami pada hari itu. Ketika semuanya selesai berbicara maka Beliau
melanjutkan pembahasan kajian yaitu Beliau membahas tentang sejarah Rasulullah
dan juga Beliau sempat memperlihatkan foto sandal Rasulullah, kemudian Beliau
menjelaskan tentang sandal Rasululah serta nikmat yang Allah berikan kepada
kita. Bahwa ada dua nikmat Allah yang paling agung yaitu nikmat iman islam dan
nikmat menjadi umat Rasulullah..... Alhamdulillah.
Beliau
sempat menyinggung nikmatnya shalat bahwa pernah ada seseorang yang shalat,
ketika dia sujud dia merasakan ada Rasulullah saw di belakangnya sedang
memeluknya dan Rasulullah pun tersenyum..... Subahanalloh.
Kisah
singkat ini seakan-akan menyentuh hatiku untuk lebih baik lagi ketika
melaksanakan shalat. Saya menyadari selama ini jika saya melaksanakan shalat
belum bisa khusyuk sampai akhir shalat bahkan ketika berdoa pun terkadang saya
terlalu mementingkan diriku sendiri bahkan lupa mendoakan orang-orang yang
berada di sekitar saya. Lewat tulisan ini saya sangat sangat berterima kasih
kepada Beliau yang telah mengingatkan nikmat dan pentingnya melaksanakan shalat
lebih baik lagi. Saya pun menyadari terkadang kita shalat hanya memperlihatkan
kekufuran dan kesombongan diri kita sendiri, seringkali kita mengingat Allah
hanya dalam keadaan susah saja dan lalai ketika kita dalam keadaan lapang atau
mendapatkan kesenangan semata.
Banyak
umat Rasulullah yang sudah melupakan Beliau, seharusnya kita menyadari dan
berterima kasih kepada Rasulullah karena Beliau begitu peduli dengan umatnya.
Dan banyak diantara kita yang sudah melupakan Beliau contoh kecilnya saja
ketika mendengar nama Rasulullah saw banyak yang lupa untuk bershalawat kepada
Beliau dan juga ketika selesai shalat banyak diantara kita yang lupa untuk
membacakan surah al-Fatihah dan bershalawat kepada Beliau.
Seusai
ustadz Ainul Yaqin memberikan beberapa penjelasan ustadz Ainul Yaqin meminta
kepada kami untuk selalu mendoakan Beliau agar supaya dimudahkan segala
urusannya. Dan akupun tertegun ketika mendengar Belaiu berbicara seperti itu,
karena kebanyakan orang yang lebih tinggi derajatnya memiliki sifat yang gengsi
untuk minta didoakan kepada yang lebih muda darinya. Dalam hal ini saya
teringat salah satu ustadz saya sewaktu saya masih mondok di pesantren
Al-Ikhlas Ujung Bone bahwa Beliau menjelaskan tentang sahbat nabi yaitu Umar
bin Khattab bahwasanya Umar sangat menyukai anak kecil dan ketika Umar melihat
anak kecil maka Umar selalu meminta doa
kepada anak tersebut karena ketika kita meminta doa kepada anak kecil maka
doanya tersebut cepat terkabulkan karena
mereka masih sangat polos dan belum mempunyai doa. Itulah salah satu
pembahasan ustadz saya ketika saya mondok dulu, dan saya sangat bersyukur saya
masih mengingat perkataan ustadz saya.